spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

ZATA Melonjak 733%, BEI Minta Penjelasan Soal Aksi Korporasi


jelajahtechno.com — Pergerakan saham PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) kembali menarik perhatian pelaku pasar modal. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025), harga saham ZATA tiba-tiba melonjak 33,93% ke posisi Rp 75 per lembar di akhir sesi perdagangan. Volume transaksi pun mencatat lonjakan signifikan hingga 1,73 miliar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp 121,91 miliar.

Dari data bursa, tercatat broker Semesta Indovest Sekuritas melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 2,7 miliar. Aktivitas ini menambah sentimen positif terhadap saham yang dikenal memiliki volatilitas tinggi tersebut.

Meski sempat lesu sepanjang awal Oktober, saham ZATA mendadak bangkit di akhir bulan, memicu spekulasi pasar terkait potensi aksi korporasi yang sedang disiapkan oleh manajemen perseroan.

Jejak Kenaikan Harga Saham yang Mencengangkan

Pergerakan saham ZATA dalam dua bulan terakhir memang luar biasa. Pada awal September 2025, harga saham ini masih berada di kisaran Rp 20 per lembar, namun dalam waktu kurang dari sebulan, harganya sempat melonjak 400% ke Rp 100 per lembar pada 29 September 2025. Setelah sempat terkoreksi, saham kembali melesat tajam di akhir Oktober.

Secara year-to-date (YtD), saham ZATA telah mencatat kenaikan fantastis 733% — menjadikannya salah satu saham dengan performa terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2025. Namun di balik euforia kenaikan ini, muncul pertanyaan besar dari para investor: apa yang sebenarnya mendorong lonjakan saham ZATA?

Baca juga : Cara Investasi Crypto Aman di OKX: Dari Cek Harga hingga Transaksi

Emiten Milik “Sultan Subang”

PT Bersama Zatta Jaya dikenal sebagai emiten yang dikaitkan dengan Asep Sulaeman Sabanda, sosok pengusaha asal Jawa Barat yang sempat dijuluki “Sultan Subang” oleh media massa. Melalui PT Lembur Sadaya Investama, Asep tercatat sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dengan kepemilikan 68,71% saham ZATA per 30 September 2025.

Kepemilikan besar oleh satu pihak ini membuat pergerakan saham ZATA sering dikaitkan dengan manuver investor utama dan potensi langkah strategis perusahaan di masa depan. ZATA sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ritel fashion dan distribusi produk gaya hidup Muslim, dengan jaringan bisnis yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Meski bukan pemain baru, performa sahamnya yang fluktuatif kerap menjadi perhatian investor ritel.

BEI Tanyakan Soal Aksi Korporasi

Melihat lonjakan saham yang signifikan dalam waktu singkat, Bursa Efek Indonesia (BEI) menindaklanjuti fenomena ini dengan meminta klarifikasi dari manajemen ZATA. Dalam surat keterbukaan informasi tertanggal 30 September 2025, BEI menanyakan apakah perseroan memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat, khususnya yang dapat mempengaruhi pergerakan saham di bursa.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Keuangan ZATA, Ronny Soleh Pahlevi, menyampaikan bahwa perusahaan memang berencana melakukan aksi korporasi, namun belum bisa mengumumkan detail rencana tersebut ke publik.

“Perseroan akan menyampaikan informasi terkait aksi korporasi sesuai ketentuan yang berlaku, berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 31/POJK.04/2015,” ujar Ronny dalam keterangannya.

Pernyataan ini langsung memantik spekulasi di kalangan investor mengenai bentuk aksi korporasi yang akan dilakukan — apakah berupa right issue, stock split, akuisisi, atau ekspansi bisnis baru.

Belum Ada Jawaban dari Pemegang Saham Pengendali

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles