spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Value Investing: Definisi, Cara Kerja, Strategi, dan Risikonya

  • Sentimen & bias perilaku: euforia atau panik massal mendorong harga menjauh dari fundamental.
  • Berita jangka pendek: laporan laba “melenceng dari ekspektasi”, gugatan, atau recall kadang menekan harga sementara.
  • Siklus ekonomi/sektor: resesi atau fase lesu sektor bisa menciptakan diskon.
  • Kurang liputan analis: small caps/emitmen “membosankan” sering terabaikan.

Bagi investor value, keterpurukan sementara dengan fundamental tetap baik adalah lahan peluang.

Strategi Value Investing yang Bisa Dipraktikkan

1) Core value (klassik Graham–Buffett)

  • Cari bisnis sederhana, arus kas kuat, manajemen prudent.
  • Beli hanya saat ada margin of safety; tahan jangka panjang.

2) Quality at a Reasonable Price (QARP)

  • Fokus pada bisnis berkualitas (moat, ROIC tinggi), tapi tunggu harga masuk akal—tidak harus super murah.

3) Deep value/special situations

  • Beli sangat murah (mis. P/B ≪ 1), turnaround, spin-off, restrukturisasi. Potensi tinggi, risiko juga lebih tinggi.

4) Faktor kuantitatif (screening)

  • Saring berdasarkan rasio (P/E, P/B, EV/EBIT), Piotroski F-Score, pertumbuhan FCF, lalu lanjut analisis kualitatif.

5) Couch-potato value (pasif)

  • Gunakan ETF/reksa dana bernuansa value jika tak sempat menganalisis saham satu per satu.
  • Alternatif: ikuti jejak manajer value ternama melalui holding company (contoh: Berkshire Hathaway).

Contoh Kasus Ringkas

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles