- Sentimen & bias perilaku: euforia atau panik massal mendorong harga menjauh dari fundamental.
- Berita jangka pendek: laporan laba “melenceng dari ekspektasi”, gugatan, atau recall kadang menekan harga sementara.
- Siklus ekonomi/sektor: resesi atau fase lesu sektor bisa menciptakan diskon.
- Kurang liputan analis: small caps/emitmen “membosankan” sering terabaikan.
Bagi investor value, keterpurukan sementara dengan fundamental tetap baik adalah lahan peluang.
Strategi Value Investing yang Bisa Dipraktikkan
1) Core value (klassik Graham–Buffett)
- Cari bisnis sederhana, arus kas kuat, manajemen prudent.
- Beli hanya saat ada margin of safety; tahan jangka panjang.
2) Quality at a Reasonable Price (QARP)
- Fokus pada bisnis berkualitas (moat, ROIC tinggi), tapi tunggu harga masuk akal—tidak harus super murah.
3) Deep value/special situations
- Beli sangat murah (mis. P/B ≪ 1), turnaround, spin-off, restrukturisasi. Potensi tinggi, risiko juga lebih tinggi.
4) Faktor kuantitatif (screening)
- Saring berdasarkan rasio (P/E, P/B, EV/EBIT), Piotroski F-Score, pertumbuhan FCF, lalu lanjut analisis kualitatif.
5) Couch-potato value (pasif)
- Gunakan ETF/reksa dana bernuansa value jika tak sempat menganalisis saham satu per satu.
- Alternatif: ikuti jejak manajer value ternama melalui holding company (contoh: Berkshire Hathaway).




[…] Value Investing: Definisi, Cara Kerja, Strategi, dan Risikonya […]
[…] Value Investing: Definisi, Cara Kerja, Strategi, dan Risikonya […]