Namun, pemerintah Hungaria telah menyatakan niat keluar dari ICC, sehingga tidak berkewajiban menahan Putin jika ia datang ke Budapest. Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, bahkan memastikan negaranya akan menjamin keamanan penuh Putin selama kunjungan.
Langkah ini tentu semakin memperkuat citra Hungaria sebagai “kuda hitam politik Eropa”—anggota UE dan NATO yang sering berjalan sendiri di luar konsensus.
Simbol Tamparan bagi Eropa
Menurut analis geopolitik Botond Feledy, pertemuan Putin dan Trump di Budapest bukan sekadar diplomasi, tapi aksi simbolik dengan pesan politik kuat.
“Putin akan membahas perang Ukraina di negara anggota UE tanpa kehadiran pemimpin Eropa. Ini tamparan keras secara simbolik bagi Uni Eropa,” ujar Feledy.
Selain itu, pertemuan ini juga mengulang pola diplomasi eksklusif antara Trump dan Putin. Sebelumnya, keduanya juga sempat bertemu di Alaska tanpa melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang semakin membuat Kyiv merasa diabaikan oleh sekutunya di Barat.
Konflik Hungaria–Ukraina yang Kian Memanas
Ketegangan antara Hungaria dan Ukraina meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh drone militer Hungaria melintasi wilayah negaranya, tuduhan yang langsung dibantah oleh Orban.
PM Orban bahkan menyindir bahwa Ukraina “bukan negara berdaulat sepenuhnya,” sebuah pernyataan yang memicu kemarahan di Kyiv dan memperburuk hubungan bilateral.
Bagi Zelensky, pertemuan Trump–Putin tanpa kehadirannya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Ukraina. Namun, bagi Orban, langkah ini justru merupakan peluang politik untuk menampilkan Hungaria sebagai mediator damai antara Barat dan Timur.
Diplomasi Trump: Antara Perdamaian dan Kontroversi
Bagi Donald Trump, pertemuan ini adalah bagian dari strategi kebijakan luar negeri yang khas—berani, personal, dan sering kali di luar jalur diplomasi tradisional AS. Trump berulang kali menyatakan bahwa ia bisa “mengakhiri perang Ukraina dalam 24 jam” jika diberi kesempatan bertemu langsung dengan Putin.
Kritikus di Washington menyebut langkah ini berisiko tinggi, karena bisa melemahkan posisi negosiasi Barat dan memberi legitimasi baru bagi Rusia di kancah internasional.
Namun, bagi pendukungnya, Trump dianggap satu-satunya pemimpin Barat yang berani membuka jalur dialog langsung dengan Moskow di tengah situasi yang kian tegang.
NATO dalam Posisi Serba Salah
Bagi NATO, rencana pertemuan ini menempatkan aliansi pertahanan Barat dalam posisi sulit. Di satu sisi, blok ini terus memperkuat dukungan militer terhadap Ukraina, termasuk pengiriman senjata berat seperti rudal Tomahawk. Namun di sisi lain, pertemuan Trump–Putin di wilayah anggota NATO menimbulkan kebingungan arah diplomasi.
Beberapa analis menilai bahwa jika hasil pertemuan itu mengarah pada gencatan senjata, NATO akan kesulitan menolak, karena itu berarti harus menerima solusi diplomatik yang tidak melibatkan Ukraina secara penuh.




[…] Trump–Putin Bertemu di Budapest, NATO dan Uni Eropa Panik […]