jelajahtechno.com — Saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) tengah menjadi sorotan investor pasar modal. Di tengah tekanan harga yang membuat sahamnya turun tajam, justru muncul peluang besar untuk meraih keuntungan signifikan. Menurut riset UOB Kay Hian, valuasi saham BWPT kini tergolong murah (undervalued) dibandingkan saham-saham sektor sawit lainnya, dengan potensi penguatan hingga 39% dari level saat ini.
UOB menilai, sejumlah katalis positif sedang terbentuk: kuasi reorganisasi, restrukturisasi keuangan, dan kenaikan kinerja operasional di tengah tren harga minyak sawit mentah (CPO) yang tetap tinggi. Kombinasi faktor tersebut diprediksi akan menjadi pendorong utama bagi lonjakan harga saham BWPT dalam beberapa bulan ke depan.
Kuasi Reorganisasi Jadi Langkah Strategis Bersihkan Neraca
Dalam riset terbarunya, UOB Kay Hian menyebutkan bahwa Eagle High Plantations tengah bersiap melakukan kuasi reorganisasi — langkah penting untuk memperbaiki posisi keuangan dan memperkuat struktur modal perusahaan. Tujuannya adalah menghapus saldo defisit ekuitas yang per Juni 2025 tercatat sebesar Rp 3,98 triliun, sehingga retained earning (laba ditahan) perusahaan bisa kembali positif.
Dengan neraca yang lebih sehat, BWPT akan memiliki ruang lebih besar untuk mendistribusikan dividen kepada pemegang saham di masa depan.
“Manajemen optimistis persetujuan final dari regulator akan menjadi awal bagi BWPT untuk memiliki struktur keuangan yang lebih bersih,” tulis UOB Kay Hian dalam laporan riset, Minggu (19/10/2025).
Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa BWPT serius memperbaiki fundamental perusahaan sekaligus meningkatkan daya tariknya di mata investor jangka panjang.
Baca juga : Saham SOFA Jadi Top Gainer, Rencana Akuisisi Dorong Euforia Investor
Operasional Kuat: 87.000 Hektare Perkebunan dan 7 Pabrik Kelapa Sawit
Dari sisi operasional, BWPT memiliki aset perkebunan kelapa sawit seluas 87.000 hektare (ha) yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia:
- Sumatra: 2.000 ha
- Kalimantan: 73.000 ha
- Papua: 12.000 ha
Selain itu, perusahaan juga mengoperasikan tujuh pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas total 370 metrik ton per jam (mt/jam). Menariknya, empat dari tujuh pabrik tersebut sudah bersertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) — standar internasional untuk praktik perkebunan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan BWPT menjual produk kelapa sawitnya ke pasar premium global dengan harga jual yang lebih tinggi dibanding pasar reguler.
Dengan portofolio operasional yang kuat, BWPT dinilai memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan tren kenaikan harga CPO dunia.
Prospek Keuangan Cerah: Pendapatan dan Laba Naik Signifikan
UOB Kay Hian mencatat, kinerja keuangan BWPT menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang semester I-2025. Pendapatan perusahaan meningkat 38,3% year-on-year menjadi Rp 2,78 triliun, sementara laba bersih tumbuh 43,6% menjadi Rp 171,9 miliar.




[…] Saham Sawit BWPT Murah Banget, Potensi Naik 39% Menurut UOB Kay Hian […]