spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Saham BBRI Melonjak, Mandiri Sekuritas Prediksi Tembus Rp 4.250

Di tengah sentimen pasar yang fluktuatif, fundamental BBRI tetap menunjukkan ketahanan kuat.
Pada kuartal II-2025, perseroan mencatat total pendapatan Rp 44,77 triliun, hanya turun tipis 1,4% secara kuartalan (qoq) namun masih tumbuh 6,9% secara tahunan (yoy).

Pendorong utama pertumbuhan tersebut berasal dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang meningkat 4,4% qoq dan melonjak 10,1% yoy menjadi Rp 37,42 triliun.

Kenaikan ini terjadi karena pertumbuhan pendapatan bunga (interest income) yang mencapai 8,2% yoy, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan beban bunga (interest expense) yang hanya 3,6% yoy. Artinya, BRI berhasil menjaga margin bunga bersih (NIM) tetap positif di tengah tren suku bunga tinggi.

Namun demikian, laba bersih BBRI turun 7,8% qoq dan 8,8% yoy menjadi Rp 12,6 triliun pada periode yang sama.
Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan tajam beban pajak hingga 29,5% qoq, serta biaya operasional yang meningkat seiring ekspansi bisnis dan digitalisasi layanan.

Meski laba menurun secara jangka pendek, BRI masih mempertahankan posisi kuat sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI dan portofolio kredit mikro paling luas di Asia Tenggara.

Prospek Saham BBRI: Stabil Tapi Punya Ruang Naik

Secara teknikal, pergerakan saham BBRI menunjukkan konsolidasi sehat di area support Rp 3.700–3.750 dengan potensi rebound menuju resistance kuat di Rp 4.250.
Volume transaksi tinggi dari investor asing memperlihatkan keyakinan pasar terhadap stabilitas sektor perbankan nasional, terutama di tengah sentimen positif kebijakan suku bunga dan dorongan pertumbuhan kredit UMKM.

Dalam jangka menengah, saham BBRI dinilai masih menarik karena:

  1. Dividen yield stabil sekitar 4–5% per tahun.
  2. Kinerja digital banking BRI melalui BRImo terus tumbuh signifikan.
  3. Valuasi relatif murah dibandingkan bank besar lain seperti BMRI dan BBCA.

Jika BBRI mampu mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan mengendalikan beban operasional, harga saham Rp 4.250 hingga Rp 4.720 masih sangat realistis tercapai hingga awal 2026.

Sentimen Makroekonomi dan Dukungan Kebijakan

Faktor eksternal yang mendukung saham perbankan, termasuk BBRI, adalah stabilitas rupiah dan ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di semester pertama 2026.
Kondisi ini akan meningkatkan permintaan kredit sekaligus menekan biaya dana (cost of fund), yang pada akhirnya memperkuat margin bunga bank.

Selain itu, program pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih menjadi katalis positif bagi BRI, yang dikenal sebagai penyalur KUR terbesar di Indonesia.
Kinerja sektor mikro dan ultra mikro yang solid memberi prospek pertumbuhan berkelanjutan bagi BBRI di masa depan.

Baca juga : ZATA Melonjak 733%, BEI Minta Penjelasan Soal Aksi Korporasi

Kesimpulan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles