Baca juga : Mengenal Sumitronomics: Konsep Ekonomi ala Prof. Sumitro
Faktor Internal: Kebijakan Pemerintah dan BI
Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak program tax amnesty. Menurutnya, keputusan ini membuat pasar bereaksi negatif.
“Dulu di era Sri Mulyani, program tax amnesty mendapat respons positif dan mendorong aliran modal masuk. Tapi sekarang dihentikan karena dianggap ada kongkalikong pengusaha. Pasar menilai kebijakan ini negatif,” jelasnya.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) yang terus melakukan intervensi di pasar valas juga disebut kewalahan menghadapi spekulasi besar di pasar internasional NDF (Non-Deliverable Forward).
Pandangan Analis Lain: Suku Bunga dan Kebijakan Fiskal
Pengamat Komoditas dan Mata Uang DCFX Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa sejak awal tahun rupiah cukup kuat berkat intervensi BI dan kebijakan suku bunga tinggi. Namun, pemangkasan suku bunga belakangan ini membuat investor terkejut.
Selain itu, kebijakan fiskal yang lebih longgar pasca pergantian Menteri Keuangan serta stimulus besar dianggap menekan rupiah. Lukman juga menilai revisi UU P2SK menimbulkan kekhawatiran akan independensi BI, karena mandat bank sentral tidak lagi hanya fokus pada inflasi dan nilai tukar.
“Usaha pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dipandang bisa mengorbankan rupiah, meningkatkan inflasi, dan memperlebar defisit anggaran,” ujarnya.




[…] Rupiah Melemah Ditekuk Dolar AS, Ini Penyebabnya […]