spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Rupiah Melemah Ditekuk Dolar AS, Ini Penyebabnya

Baca juga : Mengenal Sumitronomics: Konsep Ekonomi ala Prof. Sumitro

Faktor Internal: Kebijakan Pemerintah dan BI

Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak program tax amnesty. Menurutnya, keputusan ini membuat pasar bereaksi negatif.

“Dulu di era Sri Mulyani, program tax amnesty mendapat respons positif dan mendorong aliran modal masuk. Tapi sekarang dihentikan karena dianggap ada kongkalikong pengusaha. Pasar menilai kebijakan ini negatif,” jelasnya.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) yang terus melakukan intervensi di pasar valas juga disebut kewalahan menghadapi spekulasi besar di pasar internasional NDF (Non-Deliverable Forward).

Pandangan Analis Lain: Suku Bunga dan Kebijakan Fiskal

Pengamat Komoditas dan Mata Uang DCFX Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa sejak awal tahun rupiah cukup kuat berkat intervensi BI dan kebijakan suku bunga tinggi. Namun, pemangkasan suku bunga belakangan ini membuat investor terkejut.

Selain itu, kebijakan fiskal yang lebih longgar pasca pergantian Menteri Keuangan serta stimulus besar dianggap menekan rupiah. Lukman juga menilai revisi UU P2SK menimbulkan kekhawatiran akan independensi BI, karena mandat bank sentral tidak lagi hanya fokus pada inflasi dan nilai tukar.

“Usaha pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dipandang bisa mengorbankan rupiah, meningkatkan inflasi, dan memperlebar defisit anggaran,” ujarnya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles