spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Rekor Baru! Emas Antam Sentuh Rp 2,4 Juta per Gram, Saham EMAS & BRMS Ikut Terbang

Dampak reli emas dunia juga menjalar ke pasar saham domestik.
Saham-saham sektor tambang emas seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami lonjakan minat beli signifikan.

Saham EMAS: Prospek Produksi Emas Paling Tinggi

Menurut riset Indo Premier Sekuritas, EMAS memiliki prospek pertumbuhan produksi tertinggi di antara perusahaan tambang emas nasional.
Indo Premier memberikan rekomendasi “buy” dengan pendekatan valuasi EV/cadangan sebesar US$ 1.000/oz dan EV/sumber daya US$ 700/oz.
Kenaikan harga emas dunia akan memperluas margin laba bersih EMAS hingga kuartal I-2026.

Selain itu, ekspansi pabrik pemrosesan baru di Sulawesi diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi hingga 20% pada semester I-2026.
Dengan asumsi harga emas global stabil di atas US$ 4.200, EMAS berpotensi menjadi emiten tambang paling agresif dalam pertumbuhan laba.

Baca juga : Prabowo Jadi Simbol Diplomasi Kuat dan Bermartabat, Dunia Akui Peran Indonesia

Saham BRMS: Fokus Reinvestasi dan Ekspansi

Sementara itu, analis Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, menyoroti prospek PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Menurutnya, BRMS masih dalam fase reinvestasi hasil laba untuk memperluas fasilitas pabrik baru, sehingga dividen belum menjadi prioritas dalam jangka pendek.

Meski begitu, BRMS tetap direkomendasikan “buy” karena berpotensi mencatat pertumbuhan volume produksi signifikan tahun depan.
Wafi memperkirakan, peningkatan kapasitas pabrik baru akan menopang kinerja operasional dan memperkuat posisi BRMS sebagai pemain utama di segmen pure play gold miner di Indonesia.

“Kombinasi harga emas global yang tinggi dan peningkatan output tambang menjadikan saham EMAS dan BRMS menarik untuk jangka menengah,” ujar Wafi.

Sentimen Global Masih Menentukan Arah Emas Pekan Ini

Pengamat pasar emas, Ibrahim Assuaibi, mengingatkan bahwa pergerakan harga emas dunia masih dipengaruhi kondisi global, termasuk tensi geopolitik dan kebijakan moneter bank sentral.
Menurutnya, koreksi teknikal bisa terjadi setelah reli panjang.

“Kemungkinan besar, harga emas dunia akan bergerak di support US$ 4.182 dan resistance US$ 4.293 per troy ounce,” jelas Ibrahim.

Ia juga menambahkan, kenaikan harga minyak dan ketegangan geopolitik bisa memperkuat permintaan emas sebagai aset pelindung risiko.
Namun, investor tetap disarankan mengambil posisi hati-hati mengingat volatilitas pasar yang tinggi.

BBCA Diteropong, Cuan Bisa 47% — Diversifikasi Jadi Kunci

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles