jelajahtechno.com — Harga emas Antam (ANTM) melonjak tajam sepanjang pekan kedua Oktober 2025, menembus rekor tertinggi baru dan mencatat kenaikan lebih dari Rp 100 ribu per gram hanya dalam sepekan. Kenaikan ekstrem ini diikuti dengan ramalan baru dari analis global dan euforia investor terhadap saham tambang emas seperti EMAS dan BRMS, yang diproyeksi terus menanjak.
Fenomena ini membuat pasar logam mulia kembali jadi sorotan utama, di tengah gejolak global yang mendorong investor mencari aset lindung nilai atau safe haven.
Emas Antam Naik Pesat: Rekor Baru di Rp 2.428.000 per Gram
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Emas Antam terus mencetak rekor baru. Dalam periode 13–18 Oktober 2025, harga emas Antam naik Rp 103.000 ke level Rp 2.428.000 per gram, tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, harga buyback (beli kembali) juga ikut melesat mengikuti tren pasar global. Kenaikan ini membuat minat masyarakat terhadap investasi emas fisik melonjak drastis di toko resmi Antam, butik emas, hingga platform digital seperti Tokopedia Emas, Pegadaian Digital, dan Pluang.
Menurut pengamatan di pasar, peningkatan harga Antam ini didorong oleh kombinasi kenaikan harga emas dunia, melemahnya dolar AS, serta permintaan tinggi dari investor institusi dan ritel yang mencari perlindungan dari volatilitas pasar saham.
“Kenaikan emas Antam saat ini tidak hanya bersifat jangka pendek. Ini bagian dari tren besar kenaikan harga emas global yang diprediksi terus berlanjut hingga 2026,” ujar analis logam mulia dari GoldResearch Asia, Rifky Adi Santoso.
Ramalan Baru Harga Emas Dunia: Bisa Sentuh US$ 5.000 per Troy Ounce
Lembaga keuangan global HSBC merilis ramalan terbaru harga emas hingga 2026, yang memicu antusiasme di kalangan investor.
Menurut proyeksi analis HSBC, harga emas berpeluang menyentuh level psikologis US$ 5.000 per troy ounce pada tahun 2026, jauh di atas level saat ini yang masih berada di kisaran US$ 4.200–4.300 per troy ounce.
Ramalan ini didukung oleh beberapa faktor utama:
- Risiko makroekonomi global meningkat, termasuk ketegangan dagang AS–China dan ancaman resesi ringan di Eropa.
- Kenaikan permintaan emas bank sentral dunia, terutama dari Asia dan Timur Tengah, untuk diversifikasi cadangan devisa.
- Peningkatan inflasi jangka panjang akibat kebijakan fiskal ekspansif di banyak negara.
- Tren geopolitik tidak stabil, mendorong pelarian modal ke aset safe haven seperti emas.
HSBC juga menaikkan perkiraan harga rata-rata emas tahun 2025 menjadi sekitar US$ 4.600 per troy ounce, atau naik hampir 15% dari proyeksi sebelumnya.
“Dengan tekanan geopolitik yang belum mereda dan daya beli dolar AS melemah, emas berpotensi melanjutkan tren bullish hingga 2026,” tulis laporan HSBC.




[…] Rekor Baru! Emas Antam Sentuh Rp 2,4 Juta per Gram, Saham EMAS & BRMS Ikut Terbang […]