Pasar saham sering mengalami gejolak, bisa turun 10% hingga 20% dalam hitungan bulan. Namun, investor jangka panjang memiliki keunggulan karena mereka tidak panik menjual saat harga turun.
Jika kita melihat data sejak tahun 1920-an, hampir tidak ada investor yang mengalami kerugian bila mereka menahan investasi di S&P 500 selama 20 tahun berturut-turut, meskipun ada krisis besar seperti Great Depression atau krisis keuangan global.
3. Mengurangi Emosi dalam Investasi
Salah satu penyebab kerugian investor adalah trading berdasarkan emosi. Banyak investor mengaku berinvestasi jangka panjang, tetapi ketika harga saham turun tajam, mereka buru-buru menjual untuk menghindari kerugian. Sayangnya, langkah ini sering membuat mereka kehilangan momentum saat harga saham kembali naik.
Dengan strategi jangka panjang, investor tidak perlu terus menerus memantau pasar setiap hari. Hal ini membantu mengurangi stres dan menghindari keputusan emosional yang merugikan.
4. Pajak Lebih Ringan
Keuntungan dari menjual saham disebut capital gain. Jika saham dijual kurang dari 1 tahun, maka termasuk short-term capital gain dan dikenakan pajak seperti penghasilan biasa, yang bisa mencapai tarif tertinggi 37%.
Sebaliknya, jika saham dijual setelah lebih dari 12 bulan, maka disebut long-term capital gain. Pajaknya jauh lebih rendah, berkisar 0% hingga 20% tergantung penghasilan investor. Ini jelas membuat strategi jangka panjang lebih hemat biaya pajak.
5. Biaya Lebih Murah
Semakin sering Anda membeli dan menjual saham, semakin banyak biaya transaksi yang harus dibayar. Dengan memegang saham jangka panjang, biaya transaksi bisa ditekan seminimal mungkin.
Selain itu, semakin jarang melakukan transaksi, semakin sedikit Anda terkena risiko salah timing pasar. Strategi ini lebih hemat dan efisien dibandingkan trading aktif.




[…] Manfaat Menyimpan Saham dalam Jangka Panjang: Definisi, Keuntungan, dan Strategi […]