Formula klasik kedua ini adalah fondasi semua iklan legendaris dari era majalah hingga digital marketing modern.
- Attention (Perhatian): Tarik perhatian pembaca seketika.
- Interest (Ketertarikan): Tumbuhkan rasa ingin tahu dengan fakta atau cerita relevan.
- Desire (Keinginan): Bangkitkan emosi dan tunjukkan manfaat nyata.
- Action (Tindakan): Tutup dengan ajakan bertindak yang jelas.
Contoh AIDA
Attention: “80% freelancer kehabisan klien dalam 3 bulan pertama.”
Interest: “Masalahnya bukan pada skill, tapi pada strategi positioning.”
Desire: “Bayangkan kamu bisa punya antrean klien tanpa harus promosi setiap hari.”
Action: “Download eBook gratis ‘Strategi Freelance Sukses’ hari ini.”
Kelebihan AIDA
AIDA tidak hanya memandu struktur tulisan, tapi juga alur emosi pembaca. Dari rasa penasaran → percaya → ingin mencoba → akhirnya bertindak.
AIDA juga mudah diadaptasi untuk berbagai format seperti iklan video, email promosi, sales page panjang, dan konten edukatif di LinkedIn.
Formula Tambahan: 4P’s (Picture – Promise – Prove – Push)
Dalam episode Hot Copy, Kate dan Belinda juga membahas formula yang mereka sebut “tak bisa diucapkan”, yaitu 4P’s Formula (Picture – Promise – Prove – Push).
Meskipun tidak sepopuler PAS dan AIDA, formula ini punya kekuatan luar biasa untuk iklan dan landing page modern.
- Picture: Gambarkan situasi ideal atau masalah yang relatable.
- Promise: Beri janji hasil atau solusi yang jelas.
- Prove: Tunjukkan bukti — testimoni, data, atau studi kasus.
- Push: Dorong pembaca untuk segera bertindak (CTA).
Contoh:
“Bayangkan kamu bangun pagi tanpa rasa pusing karena utang menumpuk (Picture). Kini kamu bisa melunasi tagihan lebih cepat lewat fitur ‘Cicil Pintar’ kami (Promise). Lebih dari 100.000 pengguna telah bebas stres finansial dalam 6 bulan (Prove). Daftar sekarang dan rasakan hasilnya minggu ini (Push).”
Formula ini ideal untuk copy yang panjang dan bernilai tinggi — seperti kampanye produk keuangan, kursus digital, atau layanan profesional.
Apakah Menggunakan Formula Itu Curang?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan copywriter: “Kalau pakai formula, berarti copy-nya tidak orisinal dong?”
Jawabannya: tidak sama sekali.
Formula hanyalah alat bantu, bukan pengganti kreativitas.
Tanpa struktur, kamu bisa tersesat dalam kalimat panjang yang tidak punya arah. Dengan formula, kamu tahu harus mulai dari mana dan bagaimana mengakhiri.
Seperti kata Belinda Weaver:
“Hanya copywriter pemula yang menulis dari nol setiap kali.”
Profesional menggunakan framework terbukti agar bisa fokus pada yang paling penting — ide, emosi, dan pesan utama. Jadi, bukan soal meniru, tapi mengoptimalkan proses kreatif.




[…] PAS vs AIDA: Mana Formula Copywriting yang Lebih Efektif? […]