Prospek dan Strategi ke Depan
Meski aliran modal asing keluar cukup besar, analis menilai tekanan ini bersifat sementara.
Setelah volatilitas global mereda, aset Indonesia berpotensi kembali menarik karena yield tinggi, pertumbuhan ekonomi stabil, dan rating investasi yang kuat.
Investor jangka panjang disarankan fokus pada:
- SBN tenor menengah–panjang (5–10 tahun) yang menawarkan imbal hasil menarik,
- saham-saham berfundamental kuat seperti perbankan besar dan emiten komoditas ekspor,
- serta instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.
Kesimpulan
Keluarnya modal asing Rp16,61 triliun dalam sepekan menjadi pengingat bahwa pasar keuangan Indonesia masih rentan terhadap perubahan sentimen global.
Namun, dengan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang kuat, serta fundamental ekonomi yang terjaga, Indonesia dinilai mampu menghadapi tekanan eksternal ini dengan baik.
Stabilitas nilai tukar rupiah, dukungan investor domestik, dan kebijakan aktif Bank Indonesia menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pasar keuangan nasional dalam beberapa bulan mendatang.
Baca juga : Saham UNTR Naik 3,75%, Asing Borong Besar-Besaran: Target Rp 28.000
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa penyebab utama keluarnya modal asing dari Indonesia?
Kenaikan imbal hasil obligasi AS, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, dan ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama arus keluar modal asing.
2. Mengapa pasar SBN paling banyak terkena dampak?
Karena investor asing memegang porsi besar di SBN Indonesia, setiap perubahan sentimen global langsung berdampak pada pasar obligasi pemerintah.
3. Apa dampak keluarnya modal asing terhadap rupiah?
Outflow asing menyebabkan tekanan jual terhadap rupiah, mendorong pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS.
4. Bagaimana langkah Bank Indonesia mengantisipasi situasi ini?
BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah, menjaga intervensi valas, dan mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menahan fluktuasi pasar.
5. Apakah kondisi ini berisiko menimbulkan krisis?
Tidak. Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan inflasi terkendali, defisit fiskal moderat, dan cadangan devisa yang cukup besar.
Sumber Rujukan
- Bank Indonesia (BI) – Laporan Transaksi Modal Asing, 19 Oktober 2025
- CNBC Indonesia, “Modal Asing Rp16,61 Triliun Hengkang dari Pasar Keuangan RI”, 19 Oktober 2025
- Bloomberg Asia, Data Yield SBN dan US Treasury, 16 Oktober 2025
- Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Kurs Rupiah 17 Oktober 2025
- Refinitiv Eikon, Data CDS Indonesia 5 Tahun, Oktober 2025




[…] Modal Asing Rp16,61 Triliun Kabur dari Indonesia, Rupiah Melemah ke Rp16.590 […]