spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Modal Asing Rp16,61 Triliun Kabur dari Indonesia, Rupiah Melemah ke Rp16.590

Faktor lain yang menandai meningkatnya kewaspadaan investor adalah kenaikan premi risiko investasi (credit default swap/CDS) Indonesia tenor 5 tahun.
Per 16 Oktober 2025, CDS Indonesia naik menjadi 80,85 basis poin, dibandingkan posisi 10 Oktober yang sebesar 80,72 basis poin.

Kenaikan ini memang tergolong kecil, tetapi menunjukkan persepsi risiko yang meningkat terhadap pasar keuangan domestik di tengah volatilitas global.
Bagi investor asing, lonjakan CDS bisa menandakan risiko pembiayaan yang lebih tinggi terhadap surat utang Indonesia.

Rupiah Melemah ke Rp16.590 per Dolar AS

Dampak dari keluarnya modal asing juga terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah berada di level Rp16.590 per dolar AS pada Jumat (17/10/2025).

Melemahnya rupiah mencerminkan tekanan jual di pasar keuangan, di mana investor asing menukar aset rupiah menjadi dolar AS.
Jika arus keluar berlanjut, potensi pelemahan rupiah ke area Rp16.700–Rp16.800 tidak bisa dihindari, kecuali ada intervensi moneter dari Bank Indonesia.

Respons Bank Indonesia: Perkuat Koordinasi dan Bauran Kebijakan

Menanggapi dinamika pasar ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional.
BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, OJK, dan lembaga keuangan lainnya untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Ramdan.

Langkah-langkah tersebut termasuk intervensi di pasar valas, stabilisasi pasar SBN, serta menjaga suku bunga acuan agar tetap seimbang antara mendorong pertumbuhan dan mengendalikan inflasi.

Mengapa Investor Asing Kabur dari Indonesia?

Menurut sejumlah analis pasar, keluarnya modal asing dari Indonesia disebabkan oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Beberapa faktor utama meliputi:

  1. Kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) yang membuat aset dolar lebih menarik.
  2. Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed hingga akhir 2025, yang mempersempit selisih suku bunga (yield spread) antara AS dan Indonesia.
  3. Pelemahan rupiah yang menurunkan minat terhadap aset berdenominasi rupiah.
  4. Ketidakpastian geopolitik global seperti perang Rusia–Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
  5. Volatilitas di pasar saham regional Asia yang memicu aksi jual investor global.

Kondisi tersebut membuat investor global lebih memilih menahan dana di aset berisiko rendah seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah AS.

Dampak terhadap Pasar Saham dan Surat Utang

Arus keluar asing juga memberikan tekanan pada IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), terutama pada saham-saham sektor perbankan dan komoditas yang biasanya menjadi target utama investor institusi asing.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan jual yang dapat memicu fluktuasi yield dalam jangka pendek.

Namun, bagi investor domestik, koreksi harga saham dan obligasi akibat outflow asing bisa menjadi peluang akumulasi jangka panjang, terutama karena fundamental ekonomi Indonesia masih solid — inflasi terjaga, pertumbuhan PDB stabil di kisaran 5%, dan cadangan devisa cukup tinggi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles