Pada 2025, yield obligasi 10 tahun AS menembus level tertinggi sejak 2014, menekan kinerja saham-saham besar karena biaya pinjaman korporasi ikut meningkat.
Hubungan negatif antara saham dan obligasi kini semakin kuat—ketika yield naik, harga saham cenderung turun.
“Kombinasi suku bunga tinggi, inflasi, dan defisit fiskal yang melebar membuat pasar saham AS dan global lebih rentan terhadap koreksi besar,” ujar analis ekonomi Bloomberg Intelligence, Michael McCarthy.
Kondisi ini juga mengurangi efektivitas obligasi sebagai aset lindung nilai dalam portofolio investasi. Investor kini menghadapi dilema antara menjaga likuiditas atau mengamankan aset mereka di luar AS.
Reaksi Lembaga Pemeringkat dan Risiko Jangka Panjang
Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings telah menurunkan peringkat utang Amerika Serikat pada 2025.
Alasan utamanya: defisit fiskal yang melebar, lemahnya kesepakatan politik di Kongres, dan kenaikan biaya pinjaman yang tidak terkendali.
Penurunan peringkat ini menambah kecemasan investor global. Jika tren ini berlanjut, biaya bunga utang bisa mencapai US$ 13,8 triliun dalam satu dekade ke depan, menurut proyeksi Congressional Budget Office (CBO).
Rasio utang terhadap PDB juga melonjak hingga 124%, mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah AS.
Meski posisi dolar masih memberi ruang bagi stabilitas sementara, reformasi fiskal struktural dianggap sangat mendesak.
“Pertumbuhan ekonomi yang lambat bukan berarti aman. Amerika sedang berjalan menuju kebangkrutan fiskal secara perlahan,” tegas David Kelly.
Strategi Investor Menghadapi Risiko Utang AS
Para investor global kini mulai mendiversifikasi portofolio untuk mengantisipasi risiko dari kenaikan utang AS.
Instrumen seperti emas, aset kripto, dan saham Asia mulai dipertimbangkan sebagai alternatif pelindung nilai.
David Kelly dari JP Morgan merekomendasikan investor untuk:
- Mengurangi eksposur pada aset berbasis dolar jangka panjang.
- Meningkatkan porsi investasi di pasar berkembang (emerging markets).
- Menambah aset berwujud (real assets) seperti logam mulia dan properti.
- Mengalokasikan dana ke obligasi dengan imbal hasil tetap di luar AS.
Selain itu, pemantauan kebijakan fiskal dan suku bunga The Fed menjadi faktor penting. Setiap keputusan terkait defisit, pengeluaran pemerintah, atau tarif impor dapat langsung memicu volatilitas pasar secara global.
Gambaran Ekonomi AS 2025
Berikut data makro terbaru yang menggambarkan tekanan fiskal Amerika Serikat:
- Total utang nasional: US$ 37,8 triliun
- Pembayaran bunga tahunan: US$ 1,2 triliun
- Rasio utang terhadap PDB: 99,9% (diproyeksi naik ke 102,2%)
- Defisit fiskal 2025: sekitar 6% dari PDB
- Penerimaan tarif impor (Agustus 2025): US$ 31 miliar
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun ekonomi AS masih memiliki daya tahan tinggi, tren kenaikan utang jangka panjang menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global.
Jika dibiarkan tanpa reformasi fiskal yang tegas, sistem keuangan internasional bisa terguncang dan tatanan ekonomi dunia bisa berubah secara struktural.




[…] Krisis Fiskal Amerika? Utang AS Naik Tajam, Dolar dan Saham Dunia Terancam […]