spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Krisis Fiskal Amerika? Utang AS Naik Tajam, Dolar dan Saham Dunia Terancam


jelajahtechno.com — Kenaikan tajam utang nasional Amerika Serikat (AS) kini menjadi salah satu isu paling mengkhawatirkan di pasar keuangan global. Para ekonom memperingatkan bahwa beban utang yang terus membengkak tidak hanya menekan perekonomian domestik AS, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas mata uang global dan pasar saham internasional.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa total utang nasional AS telah menembus US$ 37,8 triliun, dengan pembayaran bunga tahunan mencapai lebih dari US$ 1,2 triliun. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kini mendekati 100%, dan diperkirakan naik menjadi 102,2% dalam setahun ke depan.
Tren ini memunculkan kekhawatiran besar terhadap kemampuan AS menjaga kredibilitas fiskalnya, yang selama ini menjadi fondasi sistem keuangan dunia.

Utang AS Terus Naik: Gejala Krisis Fiskal yang Mengintai

Kenaikan utang Amerika Serikat bukan fenomena baru, namun skalanya kini mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua dekade terakhir, pengeluaran pemerintah terus meningkat akibat stimulus fiskal, biaya militer, dan kebijakan subsidi yang agresif.
Lonjakan utang juga dipicu oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang membuat biaya bunga melambung tajam.

Menurut laporan US Treasury Department, bunga utang pemerintah AS kini menjadi komponen pengeluaran terbesar setelah belanja sosial dan pertahanan. Dengan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan beban utang ini menjadi sinyal peringatan serius bagi stabilitas ekonomi dunia.

“Amerika Serikat kini membayar bunga lebih besar dari total anggaran pendidikan nasionalnya. Ini bukan lagi masalah jangka panjang, tapi krisis yang sudah di depan mata,” kata analis dari JP Morgan Asset Management, David Kelly.

Kelly menegaskan bahwa tanpa reformasi fiskal besar-besaran, AS berisiko menghadapi krisis kepercayaan pasar yang bisa menjalar ke seluruh dunia.

Baca juga : Trump–Putin Bertemu di Budapest, NATO dan Uni Eropa Panik

Dampak Utang AS terhadap Nilai Dolar dan Stabilitas Global

Dolar AS selama ini berperan sebagai mata uang cadangan dunia (world reserve currency). Namun, kenaikan utang yang terlalu cepat mulai mengikis kepercayaan investor terhadap kekuatan fundamental dolar.

Analis memperingatkan, jika investor global mulai menjual aset dalam denominasi dolar, hal itu bisa memicu pelemahan nilai tukar secara tajam. Penurunan nilai dolar akan berdampak luas karena sebagian besar perdagangan global—termasuk minyak, gas, dan emas—masih menggunakan dolar sebagai acuan.

“Penurunan kepercayaan terhadap dolar dapat memicu ketidakstabilan sistem keuangan global, karena dolar adalah tulang punggung transaksi internasional,” tulis laporan Economic Times (18/10/2025).

Selain itu, pelemahan dolar berisiko meningkatkan inflasi domestik di AS, karena harga impor akan menjadi lebih mahal. Untuk mengendalikan inflasi, The Fed kemungkinan harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Dalam jangka panjang, kombinasi antara utang tinggi, tensi geopolitik, dan munculnya aset digital seperti kripto dapat menggerus dominasi dolar sebagai mata uang global utama. Negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia bahkan sudah mulai mengurangi ketergantungan pada dolar melalui perdagangan bilateral dalam mata uang lokal.

Pasar Saham Global dalam Tekanan

Kenaikan utang AS juga memicu dampak langsung terhadap pasar saham internasional. Ketika beban utang meningkat, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak tajam.
Kondisi ini menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan fiskal AS di masa depan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles