Kekurangan Cross-Posting
1. Audiens Bisa Jenuh
Sebagian pengguna mengikuti brand di beberapa platform sekaligus. Jika mereka selalu melihat konten yang sama persis, bisa muncul rasa bosan.
Hal ini berpotensi menurunkan engagement atau bahkan membuat audiens berhenti mengikuti akun brand.
2. Tidak Sesuai Format Platform
Setiap platform punya format unggulan:
- Instagram fokus pada visual dan video singkat.
- LinkedIn lebih cocok untuk tulisan informatif.
- Twitter (X) dibatasi karakter pendek.
- TikTok menekankan video kreatif dan cepat.
Konten yang sama bisa terlihat optimal di satu platform tapi gagal di platform lain.
3. Kehilangan Sentuhan Personal
Audiens bisa merasa brand kurang peduli jika hanya menyalin konten tanpa menyesuaikan. Misalnya, caption penuh hashtag ala Instagram terlihat “aneh” jika diunggah ke LinkedIn.
4. Melewatkan Fitur Spesifik
Setiap platform memiliki fitur unik. Instagram dengan Reels dan Stories, TikTok dengan tren challenge, atau LinkedIn dengan artikel panjang. Jika hanya cross-posting, brand bisa kehilangan kesempatan memaksimalkan fitur ini.
Praktik Terbaik
Agar cross-posting efektif dan tidak dianggap spam, ada beberapa tips yang bisa diterapkan:
1. Sesuaikan Format Konten
Gunakan prinsip satu konten, banyak format. Misalnya:
- Blog post → thread Twitter + carousel Instagram + artikel LinkedIn.
- Video YouTube panjang → potongan singkat untuk Reels & TikTok.
2. Atur Waktu Posting
Jangan unggah konten yang sama di semua platform pada waktu bersamaan. Gunakan analitik untuk mengetahui waktu terbaik di tiap platform.
Contoh:




[…] Kelebihan dan Kekurangan Cross-Posting di Media Sosial […]