Jika KTT tersebut menghasilkan sinyal positif terkait penghentian konflik atau kesepakatan baru dalam perdagangan energi, pasar kemungkinan akan merespons dengan rebound cepat.
Namun sebaliknya, jika pertemuan gagal atau justru memperburuk hubungan diplomatik, harga minyak berpotensi menembus di bawah US$ 55 per barel, level psikologis penting yang bisa memicu tekanan tambahan terhadap produsen global.
Dampak ke Ekonomi Global
Penurunan harga minyak tentu berdampak luas terhadap perekonomian dunia.
- Negara konsumen minyak besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia mendapat keuntungan dari penurunan biaya impor energi.
- Produsen minyak besar seperti Arab Saudi, Rusia, dan AS menghadapi tekanan pendapatan ekspor dan defisit fiskal.
- Pasar saham energi juga cenderung melemah, dengan saham perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan BP mengalami koreksi antara 1%–3%.
Secara historis, harga minyak dunia yang stabil di kisaran US$ 60–70 per barel dianggap ideal: tidak terlalu tinggi untuk memicu inflasi global, dan tidak terlalu rendah untuk merugikan produsen.
Proyeksi ke Depan: Volatilitas Masih Tinggi
Dalam beberapa pekan mendatang, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak volatil. Investor akan terus memantau tiga faktor utama:
- Perkembangan KTT Trump–Putin dan dampaknya terhadap pasokan energi Rusia.
- Kebijakan produksi OPEC+, termasuk keputusan Arab Saudi dalam mempertahankan pemangkasan produksi sukarela.
- Data ekonomi global, terutama dari China, AS, dan Eropa yang menentukan arah permintaan minyak jangka menengah.
Selama ketiga faktor tersebut belum memberikan kejelasan, harga minyak kemungkinan bertahan di kisaran US$ 56–63 per barel, dengan potensi rebound terbatas menjelang akhir tahun.
Baca juga : Emas Meledak: Naik 60% Tahun Ini, Sentimen AS–China Jadi Pendorong
Kesimpulan
Harga minyak dunia kembali melemah, mencatat level terendah dalam lima bulan akibat kombinasi ketidakpastian geopolitik, lonjakan stok minyak AS, dan produksi rekor di Amerika.
Pasar menunggu hasil nyata dari KTT Trump–Putin di Budapest, yang diharapkan bisa membawa arah baru bagi stabilitas global dan perdagangan energi. Namun untuk saat ini, volatilitas masih tinggi dan pelaku pasar tetap berhati-hati menghadapi risiko fluktuasi harga.
Dengan pasokan yang melimpah dan permintaan yang melambat, harga minyak kemungkinan belum akan pulih cepat — kecuali ada sinyal positif dari diplomasi internasional dan kebijakan produksi negara-negara OPEC+.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari Reuters, Bloomberg, MarketWatch, dan Energy Information Administration (EIA) yang dirilis pada 16 Oktober 2025.




[…] Jelang KTT Trump–Putin, Harga Minyak Turun 1% […]