spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Jelang KTT Trump–Putin, Harga Minyak Turun 1%

Faktor lain yang turut mengguncang pasar adalah laporan bahwa India sedang mempertimbangkan penghentian impor minyak dari Rusia. Menurut Trump, Perdana Menteri India Narendra Modi telah berjanji untuk mengakhiri pembelian minyak dari Rusia — langkah yang akan mengubah peta perdagangan energi global.

Selama ini, Rusia memasok sekitar sepertiga dari total impor minyak India, menjadikannya salah satu mitra energi terbesar negara tersebut. Jika India benar-benar menghentikan impor dari Rusia, hal itu berpotensi meningkatkan permintaan minyak dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika.

Analis pasar dari IG Group, Tony Sycamore, mengatakan bahwa langkah India ini bisa menjadi katalis positif jangka panjang bagi harga minyak. “Jika India mengalihkan sumber energinya dari Rusia, akan ada kekosongan pasokan yang memicu kenaikan harga, terutama untuk minyak non-Rusia,” ujarnya.

Namun, sejumlah pejabat pemerintah India menegaskan bahwa keputusan apapun akan mempertimbangkan stabilitas harga dan keamanan pasokan energi nasional. Beberapa kilang besar India disebut tengah menyiapkan strategi diversifikasi impor tanpa menimbulkan lonjakan harga domestik.

Sanksi Baru Inggris Tekan Rosneft dan Lukoil

Sementara itu, pemerintah Inggris mengumumkan paket sanksi baru yang menarget langsung dua raksasa energi Rusia, yakni Rosneft dan Lukoil. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tekanan terhadap Moskow di tengah rencana KTT Trump–Putin.

Sanksi baru tersebut membatasi akses kedua perusahaan terhadap pendanaan dan teknologi energi dari Eropa. Para analis menilai langkah Inggris ini bisa mempersulit Rusia dalam mempertahankan produksi jangka panjang, meski efek langsungnya terhadap harga minyak global masih terbatas.

Analisis Pasar: Harga Minyak Masih Berisiko Turun

Beberapa analis memperkirakan harga minyak dunia masih berpotensi melemah dalam jangka pendek. Selain faktor geopolitik dan stok berlebih, permintaan global yang stagnan menjadi alasan utama.

Pasar masih menanti data ekonomi utama dari China dan Eropa, dua kawasan dengan konsumsi minyak terbesar di dunia. Perlambatan ekonomi di kedua wilayah ini dapat memperburuk outlook permintaan minyak dunia.

Laporan International Energy Agency (IEA) terbaru juga menunjukkan bahwa pertumbuhan permintaan minyak global diproyeksikan turun menjadi hanya 1 juta barel per hari pada 2026, dibanding 2,2 juta barel per hari pada 2023.

Namun, sebagian pelaku pasar percaya harga minyak tidak akan jatuh terlalu dalam karena ada batas bawah alami yang ditentukan oleh biaya produksi dan kebijakan pengurangan output dari OPEC+.

Analis dari MarketWatch, Jeff Currie, menyebut bahwa pasar minyak sedang memasuki fase “keseimbangan ulang”. “Permintaan memang melemah, tetapi produksi juga tidak akan terus meningkat karena banyak negara sudah mendekati kapasitas maksimumnya,” ujarnya.

Potensi Rebound Pasca-KTT Trump–Putin

Meskipun saat ini pasar sedang tertekan, beberapa analis memperkirakan harga minyak bisa pulih setelah pertemuan Trump dan Putin jika hasilnya membawa kejelasan politik dan stabilitas pasokan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles