jelajahtechno.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali hari perdagangan dengan tekanan kuat. Pada penutupan sesi pertama Senin, 27 Oktober 2025, IHSG anjlok 243,38 poin atau 2,94% menuju level 8.028,33. Meski bergerak fluktuatif dalam rentang 7.959 – 8.354, IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) secara intraday, sebelum akhirnya tergelincir dalam.
Kondisi ini menandakan volatilitas tinggi di pasar saham Indonesia, di mana tren kenaikan intraday tidak cukup kuat menahan gelombang koreksi hingga akhir sesi pertama.
Menariknya, ketika mayoritas saham melemah, empat saham justru melesat dan menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) sehingga masuk dalam daftar top gainers sesi perdagangan hari ini.
Aktivitas Perdagangan Cukup Tinggi di Tengah Koreksi
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (IDX), volume transaksi pada sesi I mencapai:
• 24,13 miliar unit saham diperdagangkan
• Nilai transaksi Rp 17,79 triliun
• Frekuensi 1.929.191 kali transaksi
Dari total tersebut, distribusi pergerakan saham menunjukkan:
| Kategori | Jumlah Saham |
|---|---|
| Menguat | 150 saham |
| Melemah | 550 saham |
| Stagnan | 107 saham |
Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual semakin mendominasi di berbagai sektor, serta menandakan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap sentimen yang berkembang.
Baca juga : IHSG Anjlok Hampir 3%, Ini Penyebab Utama Pasar Saham Rontok Hari Ini
Semua Sektor Tertekan, Properti Memimpin Kejatuhan
Seluruh indeks sektoral kompak masuk zona merah pada penutupan sesi I. Koreksi terdalam dialami sektor properti dan real estat yang turun 4,53%. Pemicu tekanan pada sektor ini diduga terkait perlambatan permintaan di pasar hunian dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kinerja emiten properti.
Daftar penurunan sektor lain:
| Sektor | Penurunan |
|---|---|
| Energi | 4,45% |
| Perindustrian | 3,76% |
| Infrastruktur | 3,03% |
| Barang Konsumsi Non Primer | 2,86% |
Melemahnya sektor besar seperti energi dan infrastruktur turut mempengaruhi bobot indeks sehingga tekanan IHSG menjadi lebih dalam.
Kontras dengan Bursa Asia yang Menghijau
Di saat IHSG tersungkur, sejumlah indeks saham Asia justru berhasil menguat:



