spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

IHSG Anjlok Hampir 3%, Ini Penyebab Utama Pasar Saham Rontok Hari Ini


jelajahtechno.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai pekan dengan kinerja mengecewakan. Pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin 27 Oktober 2025, IHSG anjlok 243,38 poin atau 2,94% menuju level 8.028,33. Koreksi tajam ini terjadi saat sejumlah bursa saham kawasan Asia justru bergerak menghijau.

Menurut laporan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, tekanan pada IHSG secara dominan dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dalam negeri yang semakin menumpuk di tengah perkembangan eksternal yang cenderung positif.

Performa IHSG yang “jatuh sendiri” di antara pasar regional memunculkan pertanyaan mengenai faktor risiko yang sedang membayangi kondisi domestik.

Risiko Capital Outflow Jadi Pemicu Utama

Salah satu sentimen yang disorot analis adalah meningkatnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa selama periode 20–23 Oktober 2025, tercatat aliran dana asing keluar senilai Rp 940 miliar. Tekanan capital outflow tersebut dianggap menjadi pemantik koreksi agresif IHSG pada awal pekan.

Keluarnya dana asing berpotensi menekan pasar modal karena investor global biasanya menjadi motor utama likuiditas. Ketika investor asing melepas aset berisiko, pasar saham menjadi rentan terhadap aksi jual lanjutan.

Pilarmas menilai bahwa pelaku pasar kini cenderung berhati-hati dan lebih memilih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter serta stabilitas pasar keuangan.

Baca juga : Saham CYBR Masuk UMA, BEI Waspadai Lonjakan Tak Wajar

Saham Blue Chip Kompak Melemah

Selain keluarnya modal asing, pelemahan emiten-emiten besar turut memperdalam koreksi IHSG. Saham-saham unggulan seperti bank besar, konglomerasi, dan perusahaan berkapitalisasi pasar tinggi mengalami penurunan signifikan dalam perdagangan sesi pertama.

Ketika saham blue chip melemah secara serempak, pengaruhnya sangat kuat dalam menekan indeks, mengingat bobotnya dalam penghitungan IHSG cukup dominan. Penurunan tajam pada saham unggulan sering mengindikasikan kekhawatiran pasar yang lebih luas, bukan sekadar aksi ambil untung biasa.

Aturan Baru MSCI Ikut Menekan Sentimen

Pilarmas juga menyoroti efek lanjutan dari perubahan metodologi MSCI terkait perhitungan free float khusus Indonesia. Peninjauan ulang tersebut dikhawatirkan akan memicu outflow tambahan dari dana-dana berbasis indeks global.

Jika aturan baru menyebabkan turunnya bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI, maka investor institusional asing yang mengacu pada indeks tersebut harus menyesuaikan portofolio dengan menjual sebagian sahamnya di Indonesia. Ketidakpastian ini menambah tekanan psikologis ke pelaku pasar.

Sentimen Global: Positif Namun Tidak Tertransmisikan

Berbeda dengan kondisi domestik yang gelap, pasar Asia mayoritas menguat di tengah optimisme tercapainya konsensus dagang antara Amerika Serikat dan China.

Para analis memperkirakan bahwa pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada 30 Oktober 2025 dapat menghasilkan kesepakatan penting yang meredakan ketegangan perdagangan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles