2. Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed
Selain ketegangan dagang, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed juga mendorong harga emas terus menguat.
Pasar memperkirakan bank sentral AS akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir Oktober 2025.
Kebijakan pelonggaran moneter biasanya menekan nilai dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset non-yield (tidak memberikan bunga tetapi lebih stabil dalam nilai).
3. Dampak Penutupan Pemerintah AS
Ibrahim juga menyoroti bahwa penutupan pemerintahan (government shutdown) di Amerika Serikat yang telah memasuki hari ke-14 memberikan tekanan tambahan terhadap dolar AS dan memperkuat permintaan emas.
“Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar tentang stabilitas fiskal AS, sehingga investor beralih ke emas sebagai lindung nilai,” ujarnya.
4. Sentimen Geopolitik Global
Selain faktor ekonomi, sentimen geopolitik Eropa turut mendukung reli harga emas.
Krisis politik di Prancis, di mana Perdana Menteri Sebastian Le Corneau menghadapi mosi tidak percaya, meningkatkan ketidakpastian di pasar Eropa.
Di sisi lain, perang Rusia–Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda masih menjadi pemicu ketegangan di kawasan Eropa Timur.
Situasi ini membuat investor global semakin berhati-hati dan memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.
Potensi Emas Menembus Level Psikologis US$ 4.300
Dengan berbagai faktor di atas, Ibrahim memperkirakan harga emas memiliki peluang besar untuk menembus level psikologis US$ 4.300 per troy ounce dalam waktu dekat.
Level ini akan menjadi pencapaian tertinggi baru sejak pertengahan tahun 2025.
Menurut analisis teknikal, jika harga mampu bertahan di atas resistance US$ 4.260, momentum bullish akan semakin kuat, terutama bila The Fed benar-benar menurunkan suku bunga di akhir Oktober.
Namun, Ibrahim juga mengingatkan bahwa potensi koreksi tetap terbuka, terutama jika terjadi profit taking di pasar komoditas menjelang akhir bulan.
Analisis Pasar: Peluang dan Risiko
Kenaikan harga emas juga memperlihatkan pergeseran preferensi investor dari aset berisiko seperti saham ke aset lindung nilai.
Pasar saham global tengah menghadapi volatilitas tinggi akibat tensi geopolitik, inflasi yang belum turun signifikan, dan ketidakpastian kebijakan moneter.
Analis memperkirakan harga emas masih akan mempertahankan tren bullish jangka menengah, selama indeks dolar AS (DXY) bergerak di bawah level 100 dan imbal hasil obligasi AS tetap melemah.



