Ketegangan Geopolitik: Sanksi AS dan Respons China
Salah satu faktor kunci penggerak harga emas pekan ini adalah munculnya kembali ketegangan geopolitik global.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (22 Oktober 2025) mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia, dengan menargetkan dua perusahaan minyak raksasa: Lukoil dan Rosneft, sebagai bentuk tekanan atas konflik yang masih berlangsung di Ukraina.
Tak hanya itu, pemerintahan Trump juga tengah mempertimbangkan pembatasan ekspor berbagai produk berbasis perangkat lunak ke China.
Langkah ini merupakan respons terhadap kebijakan Beijing yang membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth) — bahan penting dalam industri elektronik dan pertahanan.
Kebijakan saling balas antara dua negara ekonomi terbesar di dunia ini meningkatkan ketidakpastian global. Para pelaku pasar pun mengalihkan sebagian portofolio mereka ke emas, perak, dan obligasi pemerintah AS sebagai bentuk perlindungan.
Fokus Pasar: Rilis Data Inflasi AS
Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada laporan inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) yang akan dirilis pada Jumat (24 Oktober 2025).
Data ini menjadi indikator penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada rapat pekan depan.
Analis memperkirakan inflasi inti AS tetap stabil di 3,1% pada September, sedikit di atas target jangka panjang The Fed.
Pasar keuangan global kini telah memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) oleh The Fed, dengan satu kali penurunan tambahan diperkirakan terjadi pada Desember mendatang.
Hubungan Emas dan Suku Bunga
Secara historis, harga emas cenderung menguat dalam kondisi suku bunga rendah. Hal ini karena biaya peluang (opportunity cost) untuk menyimpan emas menjadi lebih rendah dibanding aset berbunga seperti obligasi.
Kondisi inilah yang mendorong investor global memperbesar eksposur ke logam mulia selama 2025.
Menurut riset JP Morgan, harga emas diproyeksikan mencapai rata-rata US$ 5.055 per troy ons pada kuartal IV-2026, dengan asumsi pembelian oleh bank sentral dunia mencapai 566 ton per kuartal.
Prediksi ini menegaskan bahwa permintaan struktural terhadap emas tetap tinggi, bahkan setelah tren kenaikan besar sepanjang 2025.
Kinerja Logam Mulia Lainnya
Tidak hanya emas, logam mulia lain juga mencatatkan performa positif:
- Harga perak naik 0,88% ke US$ 48,92 per troy ons berkat permintaan dari industri panel surya dan kendaraan listrik.
- Paladium menguat 0,13% ke US$ 1.448,78 per ons troi didorong prospek stabil sektor otomotif.
- Platinum justru melemah tipis 0,03% ke US$ 1.629,22, akibat melambatnya permintaan industri logam berat di Eropa.
Analis memperkirakan perak akan terus mengikuti tren kenaikan emas, sementara paladium dan platinum lebih sensitif terhadap kondisi industri dan permintaan otomotif global.
Analisis Pasar: Emas Masih Jadi Favorit Investor
Kepala Strategi Komoditas di UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, menyebutkan bahwa emas tetap menjadi instrumen diversifikasi portofolio yang paling efektif di tengah ketidakpastian makroekonomi.
“Kami melihat peluang emas untuk menembus rekor baru lagi dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika inflasi tetap tinggi dan geopolitik tidak membaik,” jelas Haefele.



