spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Harga Emas Hari Ini Menguat ke US$ 4.115, Dipicu Konflik AS–China–Rusia


jelajahtechno.com — Harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan pada Kamis siang (23 Oktober 2025), setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan. Kenaikan harga ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia dan mempertimbangkan pembatasan ekspor tambahan ke China.

Menurut laporan Reuters, langkah pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump tersebut menambah ketidakpastian ekonomi global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Dalam kondisi global yang penuh tekanan politik, logam mulia kembali menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai.

Data Perdagangan Terbaru: Emas Sentuh US$ 4.115 per Ons Troi

Pada perdagangan hari Kamis, harga emas spot naik 0,41% ke level US$ 4.115,26 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,65% menjadi US$ 4.132,41 per troy ons.

Kenaikan tersebut mencerminkan sentimen beli yang kuat di pasar komoditas, di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan ekspor dan dampaknya terhadap rantai pasok global. Sejumlah analis menilai bahwa setiap ketegangan baru antara Washington dan Beijing berpotensi memperpanjang reli harga emas dalam beberapa pekan mendatang.

Pemicu Utama: Sanksi AS dan Pembatasan Ekspor ke China

Pemerintahan Presiden Trump saat ini tengah menyusun aturan baru untuk membatasi ekspor produk berbasis perangkat lunak dan teknologi tinggi ke China, mencakup sektor laptop, mesin jet, hingga perangkat AI militer. Langkah ini disebut-sebut sebagai bentuk respons terhadap kebijakan China yang membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth) — bahan penting dalam industri elektronik dan pertahanan.

Tak berhenti di situ, Washington juga memperluas sanksi ekonomi terhadap Rusia, menargetkan dua perusahaan minyak raksasa: Lukoil dan Rosneft. Kombinasi langkah tersebut meningkatkan ketegangan geopolitik global, sehingga meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai seperti emas dan perak.

Menurut Brian Lan, Managing Director GoldSilver Central, prospek jangka panjang emas masih positif:
“Dalam jangka panjang kami tetap bullish terhadap emas, namun volatilitas jangka pendek masih tinggi. Investor perlu berhati-hati dan memanfaatkan momentum secara selektif,” ujarnya.

Baca juga : Rekor Baru! Emas Antam Sentuh Rp 2,4 Juta per Gram, Saham EMAS & BRMS Ikut Terbang

Menanti Data Inflasi AS: Penentu Arah The Fed

Selain faktor geopolitik, fokus utama pelaku pasar pekan ini tertuju pada laporan inflasi Amerika Serikat (Indeks Harga Konsumen/IHK) yang dijadwalkan rilis Jumat (24 Oktober 2025). Data tersebut sebelumnya sempat tertunda karena penutupan sebagian pemerintahan AS, dan diprediksi menunjukkan inflasi inti tetap di level 3,1% pada September.

Hasil data inflasi ini sangat penting karena akan menjadi acuan utama kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan mendatang. Investor kini memperkirakan peluang besar pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat The Fed minggu depan.

Kebijakan suku bunga The Fed memiliki dampak langsung terhadap harga emas. Ketika suku bunga turun, biaya peluang untuk menyimpan emas menjadi lebih rendah, sehingga permintaan terhadap logam mulia meningkat. Dengan kata lain, emas cenderung menguat di tengah era suku bunga rendah.

Analisis UBS: Potensi Emas Bisa Tembus US$ 4.700 per Ons Troi

Dalam laporan riset terbarunya, Mark Haefele, Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, menyebutkan bahwa emas masih menjadi instrumen penting untuk diversifikasi portofolio global.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles