Faktor Amerika Serikat: Krisis Fiskal dan Penutupan Pemerintahan Federal
Dari Amerika Serikat, tekanan terhadap harga emas dunia juga datang dari penutupan pemerintahan federal (government shutdown) yang telah berlangsung selama lebih dari dua minggu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan fiskal AS dan memperlemah kepercayaan investor terhadap dolar.
“Yang memengaruhi penguatan harga emas salah satunya adalah libur pemerintahan federal yang sudah memasuki hari ke-18,” kata Ibrahim.
Shutdown yang berlarut-larut memperlambat aktivitas ekonomi dan meningkatkan risiko resesi teknis. Ketika kondisi fiskal AS memburuk, emas biasanya mendapat dorongan karena investor mencari instrumen aman untuk menjaga nilai aset mereka.
Selain itu, beban utang AS yang mendekati US$ 38 triliun juga menjadi tekanan tambahan. Pasar khawatir pembayaran bunga utang yang besar akan memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi, yang dapat memicu perlambatan ekonomi lebih dalam.
Perang Dagang AS–China dan Tekanan dari WTO
Selain isu Rusia–Ukraina, ketegangan perdagangan antara AS dan China kembali menjadi sorotan.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) baru-baru ini mendesak kedua negara untuk menyelesaikan sengketa tarif dan ekspor yang telah menimbulkan ketidakpastian global.
“Situasi ini cukup menarik bagi pasar, karena bisa berdampak langsung terhadap inflasi global dan harga komoditas, termasuk emas,” ujar Ibrahim.
Jika perang dagang memanas, aktivitas perdagangan dunia akan melambat, mendorong investor kembali menumpuk emas sebagai lindung nilai terhadap risiko resesi global. Sebaliknya, jika kedua negara mencapai kesepakatan sementara, emas mungkin mengalami konsolidasi jangka pendek.
Permintaan Emas Meningkat di Bank Sentral Dunia
Selain faktor makroekonomi, permintaan fisik emas dari bank-bank sentral global terus meningkat dan menjadi salah satu faktor utama yang menahan harga emas tetap tinggi.
Negara-negara berkembang seperti China, India, dan Rusia terus menambah cadangan emas mereka untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Tren ini disebut sebagai “dedolarisasi” global, di mana semakin banyak negara memilih emas sebagai alat lindung nilai dari volatilitas mata uang.
Menurut World Gold Council (WGC), pembelian emas oleh bank sentral global sepanjang kuartal III-2025 mencapai rekor tertinggi sejak 1967. Ini menunjukkan bahwa permintaan institusional terhadap emas masih sangat kuat, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia.
Analisis Teknis: Arah Harga Emas Pekan Depan
Secara teknikal, pergerakan harga emas dunia pekan depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan harga bertahan di area support kuat US$ 4.118–4.182 per troy ons.
Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound menuju resistance di US$ 4.293–4.372 sangat terbuka.
Namun jika harga emas menembus di bawah US$ 4.100, tekanan koreksi bisa berlanjut hingga US$ 4.000 per ons.
Kendati demikian, sebagian besar analis melihat skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi, mengingat sentimen global cenderung masih positif untuk aset safe haven.
Secara umum, struktur pasar emas masih bullish jangka menengah, dengan target jangka panjang tetap di kisaran US$ 4.500 per ons.




[…] Harga Emas Dunia Melemah, Tapi Analis Prediksi Rebound Pekan Depan […]