jelajahtechno.com — Harga emas dunia sempat mengalami koreksi pada perdagangan akhir pekan lalu, namun para analis menilai momentum bullish belum berakhir. Tekanan geopolitik global, ketidakpastian kebijakan suku bunga, dan potensi gejolak ekonomi Amerika Serikat (AS) masih menjadi katalis utama yang menjaga tren kenaikan harga logam mulia ini.
Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur Laba Forexindo Berjangka, harga emas pekan depan berpeluang kembali naik meski sempat mengalami tekanan teknikal. Ia memperkirakan pergerakan harga emas akan berada dalam rentang US$ 4.118 – US$ 4.372 per troy ons, dengan peluang rebound kuat setelah aksi ambil untung (taking profit) pada akhir pekan.
“Kemungkinan besar di hari Senin support berada di US$ 4.182 per troy ons dan resistance di US$ 4.293. Untuk satu minggu ke depan, support pertama di US$ 4.118 dan resistance kedua di US$ 4.372,” jelas Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/10/2025).
Harga Emas Terkoreksi Setelah Cetak Rekor Tertinggi
Berdasarkan data pasar yang dikutip pada Sabtu (18/10/2025), harga spot emas dunia melemah 2,2% ke level US$ 4.228,89 per ons, setelah sempat mencatat rekor tertinggi di US$ 4.378,69 pada awal sesi perdagangan.
Meskipun terkoreksi, logam mulia ini masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 5,2%, menandakan masih kuatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian.
Dalam sepekan terakhir, emas bahkan sempat menembus level psikologis US$ 4.300 per ons — tertinggi sepanjang sejarah — dipicu oleh kekhawatiran atas potensi eskalasi geopolitik dan krisis fiskal di AS.
Baca juga : Krisis Fiskal Amerika? Utang AS Naik Tajam, Dolar dan Saham Dunia Terancam
Sentimen Geopolitik: Pertemuan Trump–Putin dan Ketegangan Ukraina
Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi pergerakan emas dunia pekan ini adalah rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu di Budapest, Hungaria, pekan depan untuk membahas konflik Rusia–Ukraina. Namun, pasar masih skeptis terhadap hasil pertemuan ini, mengingat hubungan kedua negara sangat tegang dan gencatan senjata dianggap sulit dicapai.
“Pada sidang umum PBB bulan September, Trump kembali menegaskan bahwa Rusia harus mengembalikan wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki. Pernyataan ini membuat peluang gencatan senjata semakin kecil,” kata Ibrahim.
Ketidakpastian hasil pertemuan ini memicu aksi ambil untung sementara pada emas. Namun, para analis menilai jika diplomasi gagal, harga emas bisa kembali menguat signifikan, karena meningkatnya risiko geopolitik akan mendorong investor global masuk ke aset lindung nilai seperti emas.
Faktor Asia: Ketegangan Antara Perdana Menteri Jepang dan Bank Sentral Jepang
Selain faktor geopolitik, sentimen dari Asia juga ikut mengguncang harga emas.
Menurut Ibrahim, terjadi perbedaan pandangan yang tajam antara Perdana Menteri Jepang dan Bank Sentral Jepang (BOJ) mengenai arah kebijakan moneter, terutama terkait suku bunga dan intervensi terhadap yen.
“Ada dua ketimpangan antara Perdana Menteri dan BOJ yang menyebabkan nilai tukar yen terhadap dolar AS menguat tajam. Dampaknya, harga emas dunia ikut melemah,” jelasnya.
Ketegangan kebijakan di Jepang membuat investor global berhati-hati. Fluktuasi nilai yen yang ekstrem biasanya mendorong arus modal berpindah ke aset safe haven seperti emas, tetapi pada minggu ini, perbedaan kebijakan tersebut justru menimbulkan ketidakpastian arah pasar Asia.




[…] Harga Emas Dunia Melemah, Tapi Analis Prediksi Rebound Pekan Depan […]