Selain itu, hubungan terbalik antara dolar dan kripto telah menjadi pola yang umum. Ketika dolar menguat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah.
Imbal Hasil Obligasi dan Dampaknya pada Kripto
Kenaikan yield obligasi AS biasanya diartikan sebagai sinyal bahwa pasar memperkirakan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Hal ini menyebabkan likuiditas global menjadi lebih ketat, yang berdampak pada tekanan terhadap pasar kripto dan saham teknologi.
Namun, jika yield obligasi mulai turun kembali, investor cenderung kembali mencari peluang di aset berisiko — termasuk Bitcoin dan altcoin besar seperti Ethereum dan XRP.
Momentum Konsolidasi dan Strategi Investor
Fase konsolidasi pasar saat ini dapat menjadi peluang evaluasi bagi investor. Dalam kondisi seperti ini, strategi yang disarankan antara lain:
- Diversifikasi portofolio – Jangan hanya fokus pada satu aset seperti Bitcoin.
- Gunakan strategi dollar-cost averaging (DCA) untuk meminimalkan risiko volatilitas jangka pendek.
- Pantau indikator makroekonomi, seperti suku bunga, inflasi, dan pergerakan dolar.
Analis juga menyarankan agar investor memperhatikan korelasi antara kripto dan pasar tradisional, karena keduanya kini semakin saling terkait.
Prospek Jangka Menengah
Meski ada tekanan dari faktor makroekonomi, para pengamat melihat prospek jangka menengah kripto tetap positif. Faktor seperti meningkatnya adopsi institusional, perkembangan ETF Bitcoin spot di berbagai negara, serta inovasi blockchain layer-2 menjadi katalis penguatan harga di masa depan.
Selain itu, menjelang halving Bitcoin yang dijadwalkan pada 2026, banyak analis memperkirakan harga BTC berpotensi menembus level psikologis baru, asalkan kondisi makro mendukung.




[…] Harga Bitcoin dan XRP Rebound, Pasar Kripto Mulai Pulih […]