Andrianto menyebut, meski permintaan global mulai membaik, segmen kayu masih menghadapi tantangan eksternal, seperti tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok global.
Pendapatan Energi Terbarukan Sedikit Terkoreksi
Dari segmen energi terbarukan, pendapatan DSNG tercatat Rp 148,9 miliar, turun 8,3% YoY akibat penurunan sementara volume penjualan dan harga biomassa ke pasar Jepang. Namun, segmen ini tetap memberikan kontribusi positif berkat produk baru wood pellet, yang mulai beroperasi komersial sejak awal tahun.
“Produk wood pellet berhasil menjual 13,7 ribu ton dengan harga rata-rata US$ 120 per ton, memberikan tambahan kontribusi bagi segmen energi terbarukan,” jelas Andrianto.
Neraca Keuangan Sehat dan Solid
Hingga 30 September 2025, total aset DSNG tercatat sebesar Rp 17,2 triliun, sedikit turun 1% dibandingkan tahun sebelumnya akibat penggunaan kas untuk pembayaran dividen dan pelunasan obligasi yang jatuh tempo pada Juli 2025.
Total liabilitas DSNG berkurang 17% seiring strategi deleveraging (pengurangan utang), sementara ekuitas meningkat 11% menjadi Rp 10,9 triliun. Hal ini mencerminkan posisi keuangan yang kuat serta pengelolaan modal yang disiplin.
Prospek Bisnis Sawit ke Depan
DSNG menilai prospek industri kelapa sawit masih menjanjikan di tengah permintaan global yang stabil. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang tinggi, peningkatan permintaan biodiesel, serta ekspansi pasar ekspor menjadi pendorong utama kinerja ke depan.
Perusahaan juga berkomitmen memperkuat lini energi hijau melalui ekspansi wood pellet dan pengembangan biomassa. Upaya ini sejalan dengan komitmen DSNG untuk mendukung transisi energi berkelanjutan dan memperluas diversifikasi pendapatan di luar sektor sawit.
Menurut Andrianto, fokus DSNG ke depan adalah meningkatkan produktivitas lahan, memperluas efisiensi rantai pasok, dan memperkuat posisi perusahaan dalam bisnis berkelanjutan.




[…] Emiten Sawit TP Rachmat Raup Laba Rp 1,3 Triliun, Naik 51% YoY! […]