Melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama lainnya turut memperkuat daya tarik emas, karena membuat logam mulia ini lebih murah bagi pemegang mata uang non-dolar.
“Setiap tanda bahwa The Fed siap menurunkan suku bunga akan langsung menjadi bahan bakar baru bagi reli emas,” ujar analis Pepperstone, Michael Brown.
Geopolitik Memanas, Investor Beralih ke Safe Haven
Kenaikan harga emas juga tak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama antara AS dan China. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan pemutusan sebagian hubungan dagang dengan Beijing, menyusul kebijakan balasan berupa biaya pelabuhan (port fees) dari kedua negara.
Langkah ini memperburuk sentimen pasar dan mendorong pelaku investasi global untuk mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi akibat shutdown pemerintahan AS yang berlangsung lebih dari dua minggu juga memperkuat dorongan beli emas. Shutdown ini menyebabkan tertundanya publikasi data ekonomi resmi, membuat investor sulit memprediksi arah kebijakan moneter selanjutnya.
Kinerja Komoditas Lain Ikut Menguat
Reli emas turut menular ke logam mulia lainnya. Harga perak naik 2,3% ke US$ 52,64 per ounce, setelah sehari sebelumnya juga mencetak rekor baru di US$ 53,60. Kenaikan perak dipicu oleh kelangkaan pasokan di pasar London, yang menyebabkan tingkat sewa dan backwardation mencapai rekor tertinggi.
Namun, analis Michael Brown mengingatkan bahwa harga perak bisa terkoreksi jika pasokan mulai pulih.
Sementara itu, harga platinum ikut naik 0,6% ke US$ 1.647,55 per ounce, sedangkan palladium sedikit melemah 0,2% ke US$ 1.523,66 per ounce.
Bank Sentral Dunia Kembali Serap Emas
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, pembelian emas oleh bank sentral dunia juga turut memperkuat tren kenaikan harga. Negara-negara seperti China, Rusia, India, dan Turki terus menambah cadangan emas mereka sebagai upaya diversifikasi dari dolar AS.
Langkah dedolarisasi ini menjadi tren global, di mana banyak negara lebih memilih emas sebagai penyimpan nilai (store of value) yang stabil di tengah ketidakpastian politik dan inflasi global.
Menurut data World Gold Council (WGC), pembelian emas oleh bank sentral pada 2025 sudah mencapai rekor tertinggi sejak 1967, dengan total lebih dari 1.200 ton hanya dalam sembilan bulan pertama tahun ini.




[…] Emas Tak Terbendung! Harga Tembus US$ 4.200, Target Berikutnya US$ 5.000 […]
[…] Emas Tak Terbendung! Harga Tembus US$ 4.200, Target Berikutnya US$ 5.000 […]