Transformasi BUMN: Dari Konsolidasi ke Profitabilitas
Menurut Dony, program konsolidasi besar-besaran ini bukan sekadar efisiensi, melainkan upaya menyehatkan dan memperkuat fundamental BUMN agar lebih kompetitif.
“Dengan Danantara, pengelolaan BUMN menjadi lebih terarah. Kami sekarang bisa bergerak cepat dalam aksi korporasi, termasuk investasi lintas sektor,” tegasnya.
Transformasi ini diharapkan mampu membuat BUMN lebih mandiri, tidak hanya bergantung pada suntikan modal negara (PMN), tetapi juga mengandalkan profit yang berkesinambungan dari hasil investasi.
Dengan portofolio yang makin kuat dan manajemen aset yang lebih adaptif, Danantara diharapkan dapat menjadi “sovereign wealth manager” versi Indonesia, mirip dengan Temasek Holdings (Singapura) atau Khazanah Nasional (Malaysia).
Target Dividen Rp 165 Triliun dalam Lima Tahun ke Depan
Selain investasi Rp 150 triliun, Danantara juga menargetkan setoran dividen jumbo senilai Rp 165 triliun dalam kurun waktu lima tahun mendatang (2025–2030).
Target ini disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dalam wawancara terpisah.
Rosan menjelaskan, angka Rp 165 triliun itu merupakan proyeksi konservatif yang didasarkan pada optimalisasi kinerja dan leverage aset BUMN.
“Target kami sekitar US$ 10 miliar atau Rp 165 triliun dalam lima tahun. Ini angka konservatif, karena kami tidak ingin terlalu ambisius tapi tidak tercapai,” ujarnya.
Ia menambahkan, target tersebut bisa lebih tinggi jika Danantara menggunakan leverage (utang investasi) untuk memperbesar potensi keuntungan.
Namun, pendekatan yang digunakan tetap berhati-hati agar pengelolaan risiko tetap terkendali.
Diversifikasi Sumber Dividen: Tak Lagi Bergantung pada Raksasa BUMN
Rosan menegaskan bahwa ke depan, Danantara tidak ingin setoran dividen hanya bergantung pada perusahaan besar seperti:
- PT Pertamina (Persero)
- Bank-bank Himbara (Himbunan Bank Milik Negara)
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
Sebaliknya, Danantara akan mendorong kontribusi dari berbagai sektor, termasuk industri pupuk, logistik, pangan, energi baru terbarukan (EBT), dan telekomunikasi digital.
“Kami ingin semua BUMN berkontribusi, tidak hanya dari sisi profitabilitas, tapi juga penciptaan lapangan kerja dan efisiensi operasional,” ujar Rosan.
Menurutnya, kinerja BUMN ke depan akan lebih diukur dari dampak ekonomi dan sosial, bukan sekadar laba bersih.
Sinergi dengan Sektor Swasta Jadi Fokus Baru
Selain memperkuat BUMN, Danantara juga membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta nasional.
Rosan menilai, kemitraan antara BUMN dan private sector akan mempercepat transformasi ekonomi dan meningkatkan produktivitas lintas industri.




[…] Danantara Jadi Motor Investasi BUMN, Suntik Rp 150 Triliun untuk Sektor Strategis […]
[…] Danantara Jadi Motor Investasi BUMN, Suntik Rp 150 Triliun untuk Sektor Strategis […]