8. Eksperimen dengan Nada, Tapi Tetap Autentik
Boleh saja berinovasi dengan gaya bahasa. Misalnya:
- Gunakan storytelling agar lebih emosional.
- Sisipkan humor ringan agar lebih relatable.
- Tulis CTA (Call to Action) yang lebih manusiawi seperti:
“Yuk, mulai langkah pertamamu hari ini!” daripada “Klik di sini untuk mendaftar.”
Namun, pastikan tetap autentik. Jangan meniru suara merek lain hanya karena tren.
Jika brand kamu tidak lucu, jangan memaksakan lelucon. Jika kamu berbicara untuk sektor keuangan, jangan terdengar seperti komedian TikTok.
Keaslian adalah magnet kepercayaan.
9. Latihan: Coba Tes Kepribadian Merekmu Sendiri
Jawab pertanyaan berikut:
- Jika merekmu adalah seseorang, bagaimana ia menyapa pelanggan baru?
- Apa tiga kata yang paling menggambarkan kepribadian merekmu?
- Bagaimana merekmu berbicara saat menjelaskan hal sulit?
- Apa yang membuat merekmu disukai orang?
Tuliskan jawabannya. Dari sana, kamu akan mulai melihat pola nada dan emosi yang khas — itulah awal dari brand voice otentikmu.
Baca juga : Rahasia Menulis Call to Action yang Tidak Bisa Ditolak Pelanggan
10. Kesimpulan: Suara Merek Adalah “Jiwa” Komunikasi Bisnis
Suara merek bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang perasaan yang ditinggalkan.
Ia membantu pelanggan mengenalmu, mempercayaimu, dan akhirnya memilihmu.
Seperti halnya manusia, merek yang tahu siapa dirinya akan lebih mudah membangun hubungan jangka panjang.
Jadi, mulai sekarang, berhenti menulis dengan gaya “asal profesional” — dan mulailah berbicara seperti merek yang punya kepribadian.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Brand Voice
1. Apa bedanya brand voice dan tone of voice?
Brand voice adalah kepribadian inti merek, sedangkan tone of voice adalah cara kamu mengekspresikannya di situasi tertentu.
2. Kenapa penting menjaga konsistensi tone of voice?
Konsistensi menciptakan kepercayaan dan memperkuat identitas merek di mata audiens.
3. Apakah brand voice bisa berubah seiring waktu?
Bisa. Brand voice bisa berevolusi, tapi nilai intinya harus tetap sama.
4. Bagaimana jika brand memiliki banyak audiens?
Gunakan variasi tone untuk tiap segmen, namun tetap berpegang pada nilai dan karakter utama.
5. Apakah semua bisnis butuh brand voice?
Ya. Baik bisnis besar maupun UMKM perlu suara merek yang konsisten agar mudah dikenali.
6. Bagaimana cara menemukan brand voice untuk startup baru?
Mulailah dari nilai pendiri dan visi perusahaan, lalu turunkan menjadi karakter dan gaya bahasa.
7. Apakah tone formal bisa tetap menarik?
Bisa, selama komunikasinya jelas, empatik, dan tidak kaku.
8. Apa kesalahan umum dalam membangun brand voice?
Meniru suara merek lain tanpa memahami audiens sendiri.
9. Apakah perlu melibatkan copywriter profesional?
Disarankan, terutama untuk bisnis yang ingin membangun strategi komunikasi jangka panjang.
10. Seberapa sering brand voice harus dievaluasi?
Setidaknya setahun sekali, atau setiap kali brand melakukan rebranding besar.




[…] Cara Menemukan Brand Voice Unik untuk Bisnis Kamu […]