spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Cara Menemukan Brand Voice Unik untuk Bisnis Kamu

Sebagai contoh, brand seperti Tokopedia memiliki nada ramah, optimis, dan penuh semangat anak muda.
Sedangkan Mandiri Sekuritas memilih suara profesional, terpercaya, dan tenang.
Keduanya efektif — karena sesuai dengan nilai dan audiens masing-masing.

4. Sesuaikan Suara dengan Situasi dan Audiens

Seperti manusia, merek juga bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Nada bicaramu mungkin berubah tergantung konteks:

  • Saat memperkenalkan diri ke calon pelanggan baru → gunakan nada percaya diri tapi sopan.
  • Saat berbicara dengan komunitas pelanggan loyal → bisa lebih hangat dan kasual.

Kuncinya:

Ubah nada, tapi jangan ubah kepribadian.

Misalnya, brand edukasi bisa terdengar serius di brosur resmi, namun tetap bisa terdengar ringan dan bersahabat di postingan Instagram tanpa kehilangan identitasnya.

5. Hindari “Kata Aman” yang Terlalu Umum

Saat pertama kali membangun brand voice, banyak bisnis menggunakan kata-kata seperti:

  • Profesional
  • Andal
  • Efisien
  • Ramah

Masalahnya, semua orang juga mengklaim hal yang sama. Kata-kata ini tidak membedakan merekmu dari pesaing.

Solusinya: gali lebih dalam.
Tanyakan pada diri sendiri: “Bagaimana pelanggan merasakan keandalan ini?”
Mungkin mereka merasakannya lewat pelayanan cepat, dukungan 24 jam, atau respons manusiawi dalam setiap percakapan.

Jelaskan kepribadian itu dalam tindakan nyata dan gaya bahasa.
Bukan hanya label yang terdengar bagus.

6. Buat Panduan “Brand Voice Guidelines”

Agar suara merek tetap konsisten, buatlah panduan sederhana berisi:

  1. Nilai inti merek (core values).
    Contoh: “Kreatif, Informatif, dan Optimis.”
  2. Deskripsi kepribadian.
    Seperti: “Kami berbicara seperti teman yang paham teknologi dan senang berbagi insight baru.”
  3. Kata yang boleh dan tidak boleh digunakan.
    Misalnya: gunakan “Anda” bukan “kamu” untuk konteks formal.
  4. Contoh gaya penulisan.
    Buat perbandingan kalimat yang “sesuai” dan “tidak sesuai” dengan tone merek.

Panduan ini akan sangat membantu, terutama jika bisnismu memiliki banyak penulis, staf marketing, atau social media manager.

7. Gunakan Konsistensi sebagai Alat Diferensiasi

Konsistensi adalah kunci membangun brand voice yang diingat.
Audiens akan mempercayai merek yang terdengar familiar di setiap interaksi.
Sebaliknya, jika gaya bahasamu berubah-ubah, pelanggan akan bingung dan kehilangan rasa koneksi.

Ingat:

Diferensiasi bukan hanya soal produk yang unik, tapi juga cara bicara yang khas.

Cobalah lihat contoh merek besar:

  • Grab: ramah, cepat, dan mudah dimengerti oleh semua kalangan.
  • GoPay: kasual, menyenangkan, dan sering bermain kata dengan humor lokal.
  • BCA: formal, profesional, tapi tetap hangat dan informatif.

Mereka semua memiliki brand voice yang kuat — dan itu menjadi keunggulan kompetitif tersendiri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles