Pencadangan dan Manajemen Risiko yang Prudent
BNI memperkuat ketahanan keuangan melalui cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 34,7 triliun, dengan rasio cakupan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai 222,7%.
Paolo menegaskan bahwa BNI menerapkan pendekatan risk-based provisioning, di mana pencadangan dilakukan secara selektif berdasarkan risiko aktual di tiap segmen. Langkah ini memastikan ketahanan jangka panjang dan meminimalkan dampak risiko kredit di masa depan.
“Kami terus memperkuat kualitas portofolio dan memastikan ketahanan dengan pendekatan manajemen risiko yang disiplin,” ungkapnya.
Permodalan dan Likuiditas Tetap Kuat
BNI menunjukkan rasio permodalan yang sangat solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,1% dan Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas juga berada di level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Angka-angka tersebut menunjukkan struktur pendanaan BNI yang sehat, serta kemampuan bank menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kehati-hatian.
Kualitas Aset Terjaga, Risiko Kredit Menurun
Kualitas aset BNI tetap prima. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di 2,0%, sedangkan Loan at Risk (LAR) turun ke 10,4%, mencerminkan efektivitas manajemen risiko dan penerapan kebijakan kredit yang selektif.
Perbaikan ini menjadi bukti bahwa transformasi internal BNI tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada stabilitas dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Baca juga : Rekor Baru! IHSG Tembus 8.312, Empat Saham Melesat Tajam




[…] BNI (BBNI)Laporkan Laba Rp 15,12 Triliun, Efisiensi & Digitalisasi Jadi Kunci […]