spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bisnis Copywriting untuk Pemula: Langkah, Biaya, dan Strateginya

Menguasai Craft: Ilmu yang Dibayar

Copywriting adalah perpaduan ilmu (riset, strategi, psikologi keputusan, SEO) dan seni (gaya, tone, storytelling). Kamu tidak perlu jadi “master” untuk mulai—tapi butuh fondasi yang benar.

Peta belajar praktis:

  • Dasar yang wajib: riset audience, USP/UVP, struktur penawaran, headline & hook, manfaat vs fitur, social proof, CTA, penataan informasi (skimmable), dan SEO on-page (judul, H2/H3, internal link, meta).
  • Sistem menulis: brain dump → outline → draf cepat (timebox 30–60 menit) → jeda → edit fokus (kejelasan, spesifik, bukti, CTA) → proofread. Pisahkan menulis dan mengedit agar tidak buntu.
  • Perpustakaan referensi: bangun swipe file iklan bagus, email efektif, landing page yang konversi, dan headline yang “nendang”.

Sumber belajar bisa gratis (blog, YouTube, komunitas), murah (buku klasik, kursus singkat), atau terstruktur (bootcamp/mentoring). Waktu atau uang—pilih jalur yang konsisten kamu jalani.

Niche atau Generalis?

Tidak harus mengunci diri di awal. Cicipi beberapa jenis proyek (website copy, landing page, email, ads, sales page) dan beberapa industri (edutech, kesehatan, properti, F&B, SaaS). Perhatikan:

  • Permintaan & margin: siapa yang rutin butuh copy dan mau bayar premium?
  • Minat & stamina: topik yang kamu betah tulis berbulan-bulan.
  • Diferensiasi: misalnya “copy berkepribadian + SEO”, “B2B tech dengan demo-driven storytelling”, atau “brand lokal D2C dengan email lifecycle”.

Tujuannya bukan sekadar spesialisasi, tapi menjadi “chooseable”: mudah dipilih karena jelas masalah yang kamu selesaikan, bukti hasil, dan vibe yang cocok.

Cara Dapat Klien Pertama

Mulai dari lingkaran terdekat dan kanal yang kamu kuasai.

  • Jaringan hangat: teman, keluarga, mantan rekan kantor—beritahu kamu buka jasa copy.
  • Kolaborasi lintas profesi: desainer, developer, agensi kecil sering butuh copywriter partner.
  • Komunitas & event lokal: hadir, berbagi insight, tukar kartu nama yang fungsional (QR ke portofolio).
  • Online presence: optimalkan LinkedIn (headline jelas, featured works), posting edukatif, komentar bernilai.
  • Cold outreach yang personal: riset singkat, puji hal spesifik, tonjolkan gap & peluang, ajak ngobrol ringan.
  • Media sosial: konten “micro-teaching” (bedah headline, before-after copy), storytelling proses, dan CTA konsultasi.

Konsisten gabungkan 2–3 kanal agar peluang menetes terus.

Portofolio yang Menjual (Meski Belum Ada Klien)

Tiga jalur kilat:

  1. Kurasi karya lama: poster acara, landing internal, artikel brand—tulis konteks & tujuan.
  2. Spec work berkualitas: pilih brand nyata, buat contoh halaman produk, email welcome series, atau halaman “Tentang”. Jelaskan asumsi strategi & objektif.
  3. Mock brief buatanmu: susun brief detail (audience, positioning, tone, CTA, constraint) lalu kerjakan lalu tampilkan prosesnya.

Tampilkan 5–8 karya terbaik lintas format, masing-masing dengan ringkasan tantangan → pendekatan → hasil (kalau ada angka, lebih kuat). Portofolio bisa berupa Notion/Google Site/1-pager web sederhana.

Menetapkan Harga: Bernilai & Berkelanjutan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles