spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melaju Kencang di Tengah Tekanan Global

Jika China benar-benar menambah stimulus fiskal dan moneter, dampaknya bisa terasa hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Peningkatan permintaan dari China terhadap komoditas seperti batu bara dan CPO dapat memperkuat kinerja ekspor nasional serta menopang IHSG dalam jangka menengah.

Rincian Saham Penopang Kenaikan IHSG

Beberapa saham yang menjadi motor penggerak penguatan IHSG pada sesi pertama antara lain ZATA, ASLC, CITY, FAST, dan PIPA.
Saham-saham tersebut mengalami kenaikan signifikan berkat optimisme pasar terhadap prospek sektor konsumsi, transportasi, dan logistik menjelang kuartal IV 2025.

Di sisi lain, beberapa saham yang justru mengalami tekanan penurunan adalah DWGL, WAPO, AKSI, SSTM, dan JGLE. Meskipun demikian, volume transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap tinggi, menandakan minat beli investor masih solid di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Rekomendasi Saham: DEWA Masuk Radar Pilarmas

Untuk perdagangan sesi II, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebagai salah satu pilihan menarik.
“Kami merekomendasikan BUY untuk saham DEWA dengan area support di 318 dan resistance di 368,” tulis Pilarmas.

Saham DEWA dinilai memiliki potensi teknikal rebound karena didukung peningkatan aktivitas sektor pertambangan dan energi domestik. Selain itu, harga batu bara yang cenderung stabil di kisaran US$ 145 per ton turut menjadi katalis positif bagi kinerja emiten jasa pertambangan tersebut.

Respons Pasar terhadap Kebijakan BI

Kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% menciptakan rasa aman bagi pelaku pasar keuangan.
Investor menilai bahwa langkah BI sejalan dengan strategi global yang mulai mengarah pada kebijakan moneter longgar untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi pasca perlambatan global akibat ketegangan geopolitik.

Kebijakan tersebut juga memberi sinyal bahwa BI tetap independen dan rasional dalam menjaga stabilitas ekonomi, tanpa harus terburu-buru menurunkan suku bunga yang bisa menimbulkan risiko inflasi.

Outlook IHSG: Masih Berpotensi Menguat

Sejumlah analis memperkirakan bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan hingga akhir pekan jika kondisi eksternal tetap stabil dan arus modal asing terus masuk.
Selain keputusan BI, faktor lain seperti rencana pertemuan AS–China serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di kisaran 5,1–5,2% pada 2025 menjadi pendorong utama.

Sektor-sektor yang dinilai berpotensi menopang IHSG antara lain:

  • Perbankan dan keuangan, berkat stabilitas suku bunga dan ekspansi kredit.
  • Energi dan pertambangan, seiring kenaikan harga komoditas global.
  • Konsumsi, karena daya beli masyarakat yang meningkat menjelang akhir tahun.

Sementara itu, sektor teknologi dan manufaktur masih akan bergantung pada perkembangan hubungan dagang AS–China serta kebijakan fiskal dari pemerintah Indonesia.

Faktor Eksternal yang Perlu Diwaspadai

Meskipun outlook jangka pendek IHSG positif, investor tetap perlu waspada terhadap beberapa risiko eksternal yang dapat memicu volatilitas, di antaranya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles