Menurut laporan Kiwoom, revisi dilakukan dengan pendekatan multiple valuation methods seperti Dividend Discount Model (DDM), Price to Earnings (P/E), dan Price to Book Value (PBV). Penyesuaian ini mempertimbangkan potensi penurunan laba bersih seiring dengan kondisi ekonomi yang menantang.
Namun, analis menilai bahwa fundamental BBRI tetap kuat, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah, likuiditas solid, serta kemampuan adaptasi digital yang semakin matang. Risiko utama yang masih perlu diwaspadai antara lain risiko kredit macet, fluktuasi suku bunga acuan, dan kebijakan pemerintah terhadap sektor perbankan.
Saham Pakuan (UANG) Anjlok Setelah Reli Gila-Gilaan
Saham PT Pakuan Tbk (UANG) menjadi salah satu fenomena menarik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah sempat melambung dari Rp 214 per saham pada Juli 2025 hingga menyentuh Rp 7.100 pada 6 Oktober 2025, kini saham UANG kembali terjun bebas 14,79% ke level Rp 3.110 pada penutupan sesi pertama Rabu (15/10/2025).
Lonjakan tajam sebelumnya sempat membuat saham ini masuk dalam papan pemantauan khusus BEI karena pergerakan harga yang dianggap tidak wajar. Kini, saham UANG kembali mengalami tekanan jual besar dengan antrean hingga 19.365 lot di harga bawah.
Saham ini juga sempat menarik perhatian karena adanya keterlibatan PT Basis Utama Prima, perusahaan milik pengusaha Happy Hapsoro, sebagai salah satu pemegang saham.
Analis memperingatkan investor untuk waspada terhadap saham yang naik tanpa fundamental jelas, karena bisa menjadi indikasi pump and dump, yaitu skema penggelembungan harga saham dalam waktu singkat. Meski sempat mencetak keuntungan besar bagi trader harian, saham seperti UANG menunjukkan pentingnya prinsip manajemen risiko dalam investasi pasar modal.
Saham Big Banks Melemah, BBCA dan BBRI Masih Layak Koleksi
Saham empat bank besar — BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI — mengalami pelemahan bersama dengan IHSG yang terkoreksi 1,95% ke level 8.066,52 pada Selasa (14/10/2025).
Menurut analis Ratih Mustikoningsih dari Ajaib Sekuritas, penurunan harga saham perbankan disebabkan oleh aksi jual investor asing (foreign net sell) yang cukup masif. Investor global disebut menilai kinerja keuangan kuartal ketiga beberapa bank besar belum memenuhi ekspektasi pasar, terutama di segmen margin bunga bersih (NIM).
Namun, Ratih menilai pelemahan ini bersifat sementara. Ia menyebut saham big banks masih memiliki prospek jangka menengah dan panjang yang menarik, terutama dengan potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia menjelang akhir tahun.
“Saham BBCA dan BBRI masih menjadi pilihan utama investor jangka panjang, karena likuiditas tinggi, profitabilitas stabil, dan inovasi digital yang agresif,” ujar Ratih.



