spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bank Indonesia Jelaskan Alasan Penerbitan SRBI Turun Drastis

BI-FRN dirancang untuk melengkapi SRBI agar mekanisme pengelolaan likuiditas lebih fleksibel, terutama dalam kondisi pasar yang dinamis.

Kebijakan BI: Dari Pengetatan ke Pelonggaran

Dalam setahun terakhir, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali, dengan total penurunan 150 basis poin (bps). Langkah ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tren perlambatan global dan menurunnya inflasi domestik.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025, BI memutuskan untuk menetapkan BI Rate di level 4,75%, sementara:

  • Suku bunga Deposit Facility berada di 3,75%
  • Suku bunga Lending Facility di 5,50%

Kebijakan ini memperkuat posisi BI sebagai bank sentral yang proaktif dan adaptif terhadap kondisi global, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kami terus memantau transmisi kebijakan moneter, termasuk dampaknya terhadap sektor perbankan dan kredit,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pernyataannya.

Imbauan BI ke Perbankan: Turunkan Suku Bunga Kredit

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kembali menekankan pentingnya penurunan suku bunga kredit perbankan agar stimulus moneter benar-benar terasa di sektor riil. Menurut Perry, dengan turunnya BI Rate dan stabilnya inflasi, bank-bank nasional seharusnya mulai menurunkan suku bunga pinjaman bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Ia bahkan menyampaikan pesan tersebut secara simbolik menggunakan pantun khasnya:
“Ikan sepat ikan gabus, semakin cepat kredit turun, BI akan memberikan insentif lebih bagus,” ucap Perry.

Dengan kata lain, BI siap memberikan insentif tambahan kepada bank-bank yang mempercepat transmisi kebijakan moneter, terutama dalam menurunkan suku bunga kredit dan memperluas akses pembiayaan produktif.

Penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan juga menjadi salah satu strategi BI untuk memperkuat likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit.

Dampak ke Pasar Uang dan Nilai Tukar Rupiah

Kebijakan BI yang menurunkan penerbitan SRBI secara bertahap dinilai tidak akan mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah. Sebaliknya, langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan kebutuhan likuiditas dan menjaga kestabilan pasar uang antarbank (PUAB).

Selama Oktober 2025, kurs rupiah bergerak stabil di kisaran Rp 16.400–Rp 16.600 per dolar AS, didukung arus masuk dana asing ke pasar obligasi dan instrumen surat berharga BI. Para pelaku pasar menilai BI berhasil mengelola volatilitas rupiah dengan kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi di pasar valas.

Tantangan dan Arah Kebijakan Selanjutnya

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles