- SOSS (Shield On Service Tbk): turun 15% ke Rp 1.105
- SSTM (Sunson Textile Manufacture Tbk): turun 15% ke Rp 306
- MLPT (Multipolar Technology Tbk): turun 14,9% ke Rp 164.200
- ASRM (Asuransi Ramayana Tbk): turun 14,9% ke Rp 398
- AYLS (Agro Yasa Lestari Tbk): turun 14,8% ke Rp 206
Pergerakan ekstrem ini menunjukkan volatilitas tinggi di pasar saham, terutama setelah aksi jual asing yang cukup agresif.
Analisis: Tekanan Asing Masih Bayangi IHSG
Analis pasar modal menilai bahwa tren net sell asing masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, seiring tingginya ketidakpastian global.
Faktor utama yang membayangi pasar antara lain:
- Ketegangan dagang antara AS dan China
- Prospek suku bunga The Fed
- Fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar rupiah
- Aksi profit taking setelah reli IHSG dalam beberapa minggu terakhir
Namun, dalam jangka menengah, pasar dinilai masih positif berkat fundamental ekonomi Indonesia yang solid, kinerja BUMN yang membaik, serta prospek pertumbuhan investasi domestik.
Baca juga : Wall Street Melemah, Trump Serang China Soal Kedelai: Ketegangan Dagang Memanas Lagi
Kesimpulan
Aksi jual asing yang mencapai Rp 1,39 triliun pada 15 Oktober 2025 menekan sejumlah saham unggulan seperti BBRI, BBCA, dan BMRI.
Meskipun IHSG masih bertahan di atas level 8.000, tekanan jual diperkirakan masih akan berlanjut hingga sentimen global mereda.
Investor disarankan tetap selektif memilih saham, fokus pada emiten berfundamental kuat, dan memperhatikan sektor yang masih berpotensi rebound seperti keuangan, energi, dan infrastruktur.
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Aksi Jual Asing di BEI
1. Berapa total net sell asing hari ini?
Sebesar Rp 1,39 triliun, dengan akumulasi sepanjang tahun mencapai Rp 53,9 triliun.
2. Saham apa yang paling banyak dijual asing?
Saham BBRI menjadi korban terbesar dengan nilai jual bersih Rp 542,9 miliar.
3. Apakah semua saham turun karena aksi jual asing?
Tidak. Beberapa saham seperti RAJA dan ANTM masih mencatat net buy asing.
4. Bagaimana dampaknya terhadap IHSG?
IHSG terkoreksi tipis 0,19% ke level 8.051 karena tekanan jual di saham big caps.
5. Apakah tren net sell asing akan berlanjut?
Masih mungkin, tergantung pada kondisi global dan arah kebijakan moneter The Fed.
Sumber Rujukan
- Data Bursa Efek Indonesia (BEI), 15 Oktober 2025
- CNBC Indonesia Market Summary
- RTI Business Real-Time Data
- Analis Pasar Modal – Phintraco Sekuritas & MNC Sekuritas, Oktober 2025



