Meski begitu, Trump berencana meninjau ulang perjanjian USMCA pada 2026, untuk memastikan kesetaraan dagang antara tiga negara di Amerika Utara.
Langkah ini bisa membuka peluang renegosiasi, terutama terkait aturan asal barang (rules of origin) yang memengaruhi beban tarif bagi pabrikan otomotif.
“Kita perlu memastikan perjanjian dagang bekerja untuk kepentingan Amerika, bukan sebaliknya,” tulis Trump dalam pernyataan singkatnya di akun media sosial resmi.
Dampak terhadap Harga Mobil dan Industri Otomotif
Kebijakan tarif ini muncul di tengah kenaikan harga kendaraan baru di Amerika Serikat.
Menurut data Kelley Blue Book, harga rata-rata mobil baru di AS pada September 2025 mencapai US$ 50.080 atau sekitar Rp810 juta, yang merupakan level tertinggi dalam sejarah.
Angka ini naik 3,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor:
- Biaya bahan baku seperti baja dan aluminium yang meningkat.
- Gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik.
- Kebijakan moneter ketat yang menekan pembiayaan kendaraan baru.
Dengan adanya perpanjangan potongan tarif hingga 2030, pemerintah berharap biaya produksi mobil dan truk di AS bisa ditekan, sehingga harga jual ke konsumen menjadi lebih terjangkau.
Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa kebijakan proteksionis seperti ini bisa menimbulkan efek domino terhadap hubungan dagang internasional, terutama dengan negara eksportir komponen otomotif seperti Jepang, Korea Selatan, dan Jerman.
Dukungan dan Kritik dari Industri
Pelaku industri otomotif menyambut baik kebijakan ini karena memberikan kepastian jangka panjang.
Beberapa produsen besar seperti General Motors (GM), Ford, dan Stellantis telah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas produksi domestik.
“Perpanjangan kebijakan tarif ini memberi kepastian bagi kami untuk berinvestasi lebih besar di pabrik dalam negeri,” ujar juru bicara Ford Motor Company.
Namun, kritik juga muncul dari kalangan ekonom dan asosiasi perdagangan internasional yang menilai langkah Trump berpotensi memicu perang dagang baru.
Mereka khawatir negara lain akan menerapkan balasan tarif terhadap produk ekspor Amerika seperti mesin pertanian, baja, atau suku cadang pesawat.
“Kebijakan proteksi jangka panjang bisa menaikkan biaya rantai pasok global dan justru memperlambat inovasi industri,” kata analis perdagangan dari Peterson Institute for International Economics.
Strategi Politik dan Ekonomi Trump Jelang Pemilu
Kebijakan ini juga dinilai sebagai bagian dari strategi Donald Trump menjelang pemilihan presiden AS 2028.
Dengan memperpanjang keringanan tarif hingga 2030, Trump ingin memperkuat citranya sebagai “presiden pro-industri” yang melindungi lapangan kerja manufaktur domestik.
Langkah serupa juga pernah diambil pada masa jabatan pertamanya (2017–2021), di mana ia memperkenalkan tarif tinggi untuk baja dan aluminium impor dengan dalih keamanan nasional.
Kebijakan tersebut berhasil meningkatkan produksi dalam negeri namun juga menimbulkan ketegangan dengan mitra dagang utama seperti Uni Eropa dan Tiongkok.




[…] AS Perpanjang Potongan Tarif Otomotif hingga 2030: Strategi Trump Dorong Produksi Lokal […]