- Value stock diukur dengan indikator tradisional seperti P/E, P/B, dan dividend yield.
- Growth stock sering menggunakan rasio Price-to-Sales (P/S) atau forward P/E yang lebih fokus ke proyeksi masa depan.
3. Profil Perusahaan
- Value stock: Perusahaan besar, matang, dan stabil (contoh: sektor utilitas, consumer staples).
- Growth stock: Perusahaan muda, inovatif, biasanya di sektor teknologi atau kesehatan.
4. Dividen
- Value stock: Umumnya rutin membagikan dividen karena sudah mapan.
- Growth stock: Jarang membagikan dividen karena laba digunakan untuk ekspansi.
5. Risiko
- Value stock: Relatif lebih aman dan volatilitas rendah.
- Growth stock: Lebih berisiko dengan fluktuasi harga tinggi.
Mengapa Saham Bisa Undervalued?
Ada beberapa alasan mengapa saham masuk kategori undervalued:
- Sentimen pasar negatif: Berita buruk atau isu tertentu membuat harga saham jatuh.
- Kinerja keuangan menurun sementara: Misalnya karena kondisi ekonomi atau manajemen.
- Kondisi makroekonomi: Resesi atau ketidakpastian global sering membuat saham undervalued.
- Kurang perhatian investor: Saham perusahaan kecil atau di sektor tertentu sering diabaikan pasar.
Situasi inilah yang dimanfaatkan investor value untuk membeli saham murah dengan potensi kenaikan harga di masa depan.
Strategi Menemukan Value Stock
Ada beberapa cara sederhana untuk mengidentifikasi value stock:
- Analisis P/E Ratio
Bandingkan rasio P/E saham dengan rata-rata industri. Jika jauh lebih rendah, bisa jadi saham tersebut undervalued. - Analisis P/B Ratio
P/B ratio di bawah 1 sering menjadi indikasi saham diperdagangkan lebih murah dari nilai bukunya. - Perhatikan Dividend Yield
Jika yield dividen lebih tinggi dibanding rata-rata industri, saham tersebut bisa termasuk value stock. - Lihat Potensi Pertumbuhan Perusahaan
Jika laba perusahaan diprediksi tumbuh tetapi harga saham tidak bergerak, ada peluang value. - Bandingkan dengan Kompetitor
Saham undervalued sering terlihat ketika valuasinya jauh di bawah pesaing di industri yang sama.



