jelajahtechno.com — Pasar saham Indonesia menunjukkan performa cemerlang pada perdagangan Kamis (23 Oktober 2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 105,78 poin atau naik 1,3% ke level 8.258,33 pada penutupan sesi pertama.
Lonjakan tajam ini terjadi di tengah tekanan bursa Asia yang mayoritas justru melemah, menunjukkan bahwa sentimen domestik masih kuat berkat keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% menjadi katalis utama penguatan IHSG hari ini.
Kebijakan tersebut dipandang sebagai sinyal stabilitas ekonomi nasional dan bukti bahwa BI masih memiliki ruang longgar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Keputusan BI Dipandang Positif oleh Pasar
Dalam laporan riset yang diterbitkan Kamis pagi, Pilarmas menjelaskan bahwa keputusan BI mempertahankan BI-Rate menunjukkan komitmen menjaga keseimbangan antara inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, BI juga menyampaikan bahwa pihaknya akan terus memantau efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar yang sudah dijalankan, serta meninjau kemungkinan penurunan suku bunga tambahan apabila inflasi tetap terkendali hingga 2026.
“Keputusan BI memberikan sinyal kuat mengenai kontrol dan independensi lembaga tersebut dalam mengambil kebijakan moneter,” tulis Pilarmas dalam risetnya.
“Pasar menilai langkah ini sebagai kebijakan yang pro-stabilitas tanpa mengabaikan prospek pertumbuhan jangka panjang.”
Keputusan tersebut menjadi sentimen positif karena meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang cukup tinggi memperkuat persepsi bahwa Indonesia berada di jalur pertumbuhan yang sehat.
Baca juga : Harga Emas Hari Ini Menguat ke US$ 4.115, Dipicu Konflik AS–China–Rusia
IHSG Ngebut Saat Pasar Asia Lesu
Menariknya, penguatan IHSG terjadi saat bursa Asia justru bergerak lesu. Sejumlah indeks saham utama di kawasan, seperti Nikkei dan Hang Seng, tercatat melemah akibat kekhawatiran terkait kebijakan ekspor Amerika Serikat (AS) terhadap China.
Namun, pelaku pasar di Indonesia tampak lebih fokus pada kabar positif dari dalam negeri, terutama keputusan BI dan ekspektasi stimulus ekonomi lanjutan.
Pilarmas menilai, IHSG berhasil menembus momentum teknikal positif karena adanya arus beli dari investor domestik yang kembali aktif di sektor keuangan dan energi. Saham-saham unggulan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan ADRO mengalami penguatan signifikan pada sesi pertama.
Sentimen Global: Ketegangan AS–China dan Sanksi Dagang
Meski pasar global sedang dilanda kekhawatiran, sentimen internasional perlahan membaik setelah Presiden Donald Trump mengonfirmasi akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat.
Pertemuan tersebut diharapkan mampu meredakan tensi dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, yang sebelumnya memanas akibat rencana AS membatasi ekspor produk berbasis perangkat lunak ke China.
Kabar ini membuat sebagian investor berani masuk kembali ke pasar saham, termasuk di Indonesia. Meski risiko global masih tinggi, ekspektasi pertemuan bilateral AS–China memberi ruang optimisme bahwa tensi perdagangan bisa berkurang dan rantai pasok global dapat kembali stabil.
Sinyal dari China: Pasar Tunggu Stimulus Baru
Selain faktor BI dan The Fed, perhatian investor juga tertuju pada Sidang Pleno Keempat Partai Komunis China di Beijing, yang sedang berlangsung minggu ini.
Pelaku pasar menanti keputusan stimulus ekonomi baru dari China untuk menopang pertumbuhan yang mulai melambat akibat tekanan ekspor dan sektor properti yang lesu.
“Pasar menunggu langkah konkret dari Bank Rakyat China (PBOC) — apakah mereka akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut sebelum akhir tahun untuk menahan perlambatan ekonomi,” jelas analis Pilarmas dalam risetnya.



