jelajahtechno.com — Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI, salah satu emiten perbankan terbesar di Indonesia, menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja yang melemah. Meski demikian, analis pasar modal menilai fundamental BBRI masih kuat dalam jangka menengah, sehingga tetap layak dikoleksi oleh investor jangka panjang.
Saham BBRI Melemah di Tengah Aksi Jual Asing
Pada perdagangan Jumat (17/10/2025), saham BBRI ditutup di level Rp 3.500, turun 0,85% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, saham BBRI anjlok 6,17%, menjadikannya salah satu saham perbankan big cap yang mengalami tekanan cukup dalam sepanjang pekan lalu.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa investor asing membukukan net sell sebesar Rp 1,5 triliun hanya dalam waktu satu minggu. Tekanan jual asing ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan harga BBRI di pasar reguler.
Aksi jual asing pada saham-saham perbankan, termasuk BBRI, sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga global serta perlambatan penyaluran kredit di sektor mikro dan UMKM yang selama ini menjadi fokus bisnis BRI.
Meski terkoreksi dalam jangka pendek, analis menilai pelemahan tersebut lebih bersifat teknikal correction daripada tanda penurunan fundamental.
Baca juga : BEI Cabut Suspensi 5 Saham: Investor Kini Bisa Transaksi Lagi di Pasar Reguler
Kinerja Keuangan BBRI: Laba Bersih Turun 7,8% QoQ
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba bersih konsolidasi BRI pada kuartal II-2025 tercatat sebesar Rp 12,6 triliun, turun 7,8% secara kuartalan (qoq) dan 8,8% secara tahunan (yoy).
Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan beban pajak sebesar 29,5% qoq, serta meningkatnya biaya operasional akibat ekspansi jaringan dan digitalisasi layanan.
Meskipun laba mengalami tekanan, pendapatan bunga bersih (NII) BBRI masih tumbuh moderat seiring dengan peningkatan volume kredit di segmen ritel dan mikro. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di bawah 3%, menandakan kualitas aset BRI masih stabil di tengah volatilitas ekonomi.
Kinerja BRI juga dipengaruhi oleh penurunan margin bunga bersih (NIM) yang turun tipis ke kisaran 7,5%, akibat penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia dan peningkatan biaya dana (CoF).
“Kinerja BBRI sedikit tertekan akibat peningkatan beban pajak dan biaya operasional, tapi fundamentalnya masih solid,” tulis Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Kiwoom Sekuritas: Target Harga Diturunkan ke Rp 4.720
Dalam laporan terbarunya, Kiwoom Sekuritas Indonesia merevisi target harga saham BBRI untuk 12 bulan ke depan menjadi Rp 4.720 per saham, dari proyeksi sebelumnya di kisaran Rp 4.900.
Revisi ini mencerminkan penyesuaian terhadap penurunan proyeksi laba bersih serta meningkatnya risiko makroekonomi yang bisa memengaruhi sektor perbankan.




[…] Laba BBRI Turun 7,8%, Tapi Fundamental Tetap Kuat […]