jelajahtechno.com — Pasar logam mulia dunia kembali bergemuruh pada Kamis (16/10/2025) waktu setempat. Harga emas melonjak tajam dan berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas US$ 4.300 per ounce. Kenaikan dramatis ini mencerminkan lonjakan permintaan terhadap aset safe haven di tengah situasi geopolitik dan ekonomi global yang makin tidak pasti.
Berdasarkan laporan Reuters, lonjakan harga emas dipicu dua faktor utama: ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, serta penutupan sebagian pemerintahan (shutdown) AS yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam.
Harga emas spot tercatat naik 2,83% ke posisi US$ 4.326,58 per ounce, setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$ 4.330,25 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) emas AS untuk pengiriman Desember menguat 2,5% ke US$ 4.304,60, setelah menembus rekor US$ 4.335 per ounce di sesi perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga ini menandai tonggak penting baru bagi logam mulia tersebut — yang kini telah mencatat kenaikan lebih dari 60% sepanjang tahun 2025, menjadi performa terbaik sejak krisis keuangan global 2008.
Faktor-faktor yang Mengerek Harga Emas ke Langit
Analis menilai kenaikan fantastis harga emas tahun ini tidak berdiri sendiri. Ada beberapa katalis utama yang menopang reli panjang logam mulia tersebut. Pertama, ketegangan geopolitik global yang meningkat, terutama konflik dagang AS–China, perang Rusia–Ukraina, dan ketidakpastian politik di Eropa Timur. Kedua, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang semakin besar, di mana investor berspekulasi bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga dua kali sebelum akhir tahun.
Ketiga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia, terutama dari Tiongkok, India, dan negara-negara Timur Tengah. Keempat, tren dedolarisasi yang mendorong banyak negara mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam cadangan devisanya. Terakhir, arus masuk besar ke produk ETF berbasis emas yang menandakan meningkatnya kepercayaan investor institusional terhadap logam mulia ini.
Menurut analis MarketPulse dari OANDA, Zain Vawda, pergerakan emas masih akan bergantung pada arah kebijakan moneter AS dan hubungan dagang dengan China. Ia menilai jika negosiasi antara kedua negara gagal dan ketegangan terus meningkat, harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ounce pada 2026.
Baca juga : Dana Pemerintah di BI Turun, Tapi Kredit Perbankan Naik Tajam
Hubungan AS–China Kembali Panas
Katalis geopolitik terbesar bagi reli emas kali ini datang dari Washington dan Beijing. Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menuduh kebijakan ekspor mineral tanah jarang (rare earth) oleh China mengancam rantai pasok global dan keamanan ekonomi Amerika.
Sebagai respons, Trump dikabarkan mempertimbangkan tarif tambahan hingga 100% terhadap produk-produk impor asal China. Langkah ini membuat pasar global kembali bergolak dan mendorong investor melarikan aset ke emas.




[…] Emas Meledak: Naik 60% Tahun Ini, Sentimen AS–China Jadi Pendorong […]