Pada perdagangan Kamis, 16 Oktober 2025, Bursa Efek Indonesia mencatat kejadian menarik: investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar, terutama menekan beberapa saham unggulan. Meski tekanan dari asing cukup kuat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap berhasil ditutup menguat. Hal ini menunjukkan bahwa investor lokal masih cukup optimistis terhadap prospek pasar domestik.
Aksi net sell yang dilakukan asing ini perlu diperhatikan karena dapat merefleksikan perubahan sentimen global atau kekhawatiran terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia. Namun, dukungan dari investor dalam negeri membuat pasar tetap solid di tengah arus keluar dana asing.
Artikel ini mengulas lebih dalam mengenai:
- Skala aksi jual bersih asing
- Saham-saham yang menjadi target pelepasan
- Saham yang justru diborong asing
- Performa IHSG dan sektor yang menguat
- Analisis dan potensi ke depan
Baca juga : Berita Terpopuler 15 Oktober 2025: Emas Melesat, Saham BBRI & BBCA Dilirik Lagi
1. Skala Net Sell Asing di BEI
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip Kontan, investor asing melakukan aksi net sell sebesar Rp 622,33 miliar di seluruh pasar pada Kamis, 16 Oktober 2025. Di pasar reguler, nilai net sell mencapai sekitar Rp 587,19 miliar, sedangkan di pasar negosiasi sebesar Rp 35,14 miliar. Angka ini menambah akumulasi net sell asing sejak awal tahun yang kini mencapai sekitar Rp 54,5 triliun.
Jumlah tersebut menandakan bahwa aksi jual asing bukan fenomena sesaat, melainkan tren berkelanjutan sepanjang 2025. Investor asing umumnya lebih cepat bereaksi terhadap faktor risiko global, seperti perubahan suku bunga, nilai tukar, atau ketegangan geopolitik. Karena itu, ketika mereka mulai keluar, pasar lokal bisa mengalami tekanan likuiditas.
2. Saham Unggulan yang Dihantam Net Sell
Beberapa saham dengan kapitalisasi besar menjadi target utama aksi jual asing. Saham-saham ini tergolong likuid dan sering menjadi acuan utama investor institusi.
a. BBCA (Bank Central Asia Tbk)
Saham BBCA mencatat net sell terbesar hari itu, yakni Rp 248,29 miliar. BBCA merupakan salah satu saham perbankan paling likuid dan banyak dimiliki oleh investor institusional. Tekanan jual pada saham ini bisa menjadi sinyal kehati-hatian investor terhadap prospek sektor keuangan, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga dan permintaan kredit.
b. RAJA (Rukun Raharja Tbk)
Saham RAJA mengalami net sell asing sebesar Rp 167,29 miliar. RAJA merupakan salah satu emiten sektor energi yang cukup aktif diperdagangkan. Aksi jual pada saham ini bisa mencerminkan rebalancing portofolio asing di tengah volatilitas harga komoditas energi global.
c. CDIA (Chandra Daya Investasi Tbk)
Saham CDIA juga tak luput dari aksi jual, dengan nilai net sell Rp 132,5 miliar. Menariknya, pekan sebelumnya CDIA sempat masuk daftar saham yang diborong asing. Perubahan arah ini menunjukkan bahwa investor global cepat mengubah posisi ketika kondisi pasar berbalik.
d. BBRI (Bank Rakyat Indonesia Tbk)
Saham BBRI mencatat net sell sebesar Rp 106,45 miliar. Sebagai bank BUMN terbesar dengan basis nasabah ritel yang kuat, pelepasan saham BBRI bisa disebabkan kekhawatiran terhadap prospek kredit mikro di tengah ketidakpastian ekonomi domestik.
3. Saham yang Diakumulasi Asing (Net Buy)
Meski aksi jual mendominasi, beberapa saham tetap diborong asing. Dua di antaranya berasal dari sektor pertambangan dan sumber daya alam.
a. AMMN (Amman Mineral Internasional Tbk)
Saham AMMN mencatat aksi beli bersih (net buy) asing sebesar Rp 130,2 miliar. Asing tampaknya melihat potensi positif di sektor pertambangan, mengingat harga emas dan tembaga global yang cenderung stabil.




[…] Net Sell Asing Meningkat, 4 Saham Unggulan Jadi Sasaran — IHSG Tetap Naik […]