spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Waspada! Serangan Phishing di Indonesia Tembus 85 Ribu Kasus, Ancam Dunia Bisnis


jelajahtechno.com — Kepercayaan merupakan fondasi dalam dunia usaha dan investasi. Namun di tengah percepatan digitalisasi, ancaman phishing semakin berbahaya bagi keberlangsungan bisnis di Indonesia.

Menurut data Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX), sepanjang 2025 phishing menjadi jenis serangan siber paling dominan dengan lebih dari 85 ribu kasus. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya risiko yang kini dihadapi perusahaan, terutama yang beroperasi di sektor keuangan, e-commerce, dan digital services.

Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menegaskan bahwa serangan phishing tidak hanya soal kehilangan data, tetapi juga runtuhnya reputasi dan kepercayaan.

“Jika sebuah bank terkena phishing dan nasabah kehilangan uang, reputasi langsung runtuh. Nasabah pergi, dan perusahaan menanggung kerugian finansial sekaligus risiko hukum,” ujarnya.

Baca juga : Danantara Jadi Motor Investasi BUMN, Suntik Rp 150 Triliun untuk Sektor Strategis

Dampak Langsung Phishing terhadap Perusahaan

Serangan phishing bukan hanya menyerang sistem, tetapi juga mengganggu operasional bisnis secara langsung. Setiap menit downtime akibat serangan bisa berarti kerugian besar.

“Perusahaan perlu menghitung biaya downtime per menit hingga per hari. Tanpa sistem keamanan yang siap, kerugiannya bisa lebih besar daripada investasi keamanan itu sendiri,” tambah Edwin.

Bagi investor, downtime dan hilangnya kepercayaan publik bisa berdampak langsung terhadap valuasi perusahaan. Namun, perusahaan yang mampu pulih cepat dan bersikap transparan justru bisa memperkuat kepercayaan publik.

“Publik tahu tidak ada sistem yang 100% aman. Tapi kalau perusahaan bertanggung jawab dan cepat memulihkan layanan, kepercayaan bisa kembali bahkan meningkat,” jelas Edwin.

Phishing Berevolusi: AI Jadi Senjata Baru Penyerang

Ancaman phishing kini semakin kompleks karena memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat serangan lebih meyakinkan.
Email palsu tampak semakin realistis, pesan dikirim otomatis dalam skala besar, bahkan deepfake mulai digunakan untuk meniru suara atau wajah eksekutif perusahaan.

“Phishing modern sudah tidak bisa dideteksi dengan cara tradisional. Penyerang memakai AI untuk meniru bahasa manusia dan mengelabui sistem keamanan,” ujar Edwin.

Untuk menghadapi tantangan ini, Fortinet menggunakan AI generatif di seluruh lini produknya. Teknologi ini memungkinkan sistem menganalisis pola serangan baru secara real-time, mengidentifikasi anomali, dan menghentikan penyebaran sebelum meluas.

Real-Time Protection Jadi Strategi Bisnis, Bukan Sekadar Teknologi

Fortinet menegaskan bahwa keamanan siber bukan hanya urusan IT, tetapi strategi bisnis jangka panjang.
Salah satu fitur penting adalah real-time protection, yang mampu menyaring dan mengkarantina email berbahaya sebelum dibuka karyawan.

“Begitu pesan phishing dibuka, biasanya sudah terlambat. Real-time detection menghentikan ancaman di pintu masuk. Investor pun yakin bahwa perusahaan siap melindungi reputasi digitalnya,” jelas Edwin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles