jelajahtechno.com — Kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Dari GPT-3 hingga GPT-4, kemampuannya meningkat drastis dalam hal penalaran, pemahaman konteks panjang, dan hasil keluaran yang semakin natural. Namun satu hal tetap sama — pengguna masih harus mengetik perintah (prompt) secara manual agar model AI seperti ChatGPT bisa memberikan jawaban sesuai harapan.
Kini, hadir terobosan baru bernama AutoGPT, yang membuat AI dapat berpikir dan bekerja sendiri tanpa perlu diarahkan terus-menerus. Kamu cukup memberikan tujuan, dan AutoGPT akan menyusun langkah serta menjalankannya hingga selesai.
Bayangkan seperti mobil Tesla yang bisa membawa kamu ke tujuan hanya dengan menyebut alamatnya. Begitu juga dengan AutoGPT, cukup beri “tujuan,” dan AI akan menuntaskan seluruh prosesnya. Inilah yang disebut agen AI otonom, dan teknologi ini kini sedang menjadi tren besar di dunia kecerdasan buatan.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap apa itu AutoGPT, bagaimana cara kerjanya, kelebihannya dibanding ChatGPT, hingga langkah-langkah instalasinya.
Apa Itu AutoGPT?
AutoGPT adalah aplikasi open-source berbasis GPT-4 yang dikembangkan untuk menciptakan agen AI otonom. Aplikasi ini pertama kali dirilis pada 30 Maret 2023 oleh Toran Bruce Richards, seorang pengembang gim yang juga mendirikan perusahaan Significant Gravitas.
Berbeda dari ChatGPT, AutoGPT dapat menjalankan tugas secara mandiri. Kamu tidak perlu lagi memberikan prompt satu per satu. Cukup tuliskan objektifnya — misalnya, “buatkan strategi pemasaran digital untuk bisnis kopi lokal” — dan AutoGPT akan memecahnya menjadi langkah-langkah otomatis hingga hasilnya selesai.
Dengan pendekatan ini, AutoGPT benar-benar mengubah hubungan manusia dengan AI. Pengguna kini berperan sebagai “pemberi tujuan,” bukan sekadar “pemberi perintah.”
Baca juga : Cara Cepat Membuat Buku Cerita Anak Menggunakan Gemini AI
Cara Kerja AutoGPT
AutoGPT beroperasi dengan sistem beberapa agen AI yang saling berkomunikasi. Setiap agen memiliki fungsi berbeda agar AI bisa bekerja secara efisien dan mandiri.
1. Agen Pembuat Tugas (Task Creation Agent)
Agen ini menerima tujuan dari pengguna dan mengubahnya menjadi daftar tugas yang terperinci. Misalnya, jika tujuannya adalah “meluncurkan kampanye iklan digital,” agen ini akan membuat daftar langkah seperti riset audiens, analisis kompetitor, penentuan platform, dan pembuatan konten iklan.
2. Agen Prioritas (Task Prioritization Agent)
Setelah tugas dibuat, agen ini memastikan urutannya logis dan efektif, sehingga setiap langkah saling mendukung secara berurutan.
3. Agen Eksekusi (Task Execution Agent)
Agen ini melaksanakan seluruh rencana dengan memanfaatkan GPT-4, internet, dan berbagai sumber data untuk mengumpulkan informasi serta menulis hasil akhirnya.
Ketiga agen ini bekerja dalam siklus berulang (iteratif). Jika hasilnya belum memuaskan, AutoGPT akan memperbarui daftar tugas dan menjalankan kembali hingga hasilnya sesuai target. Proses ini berlangsung otomatis tanpa campur tangan pengguna.
Pada antarmuka AutoGPT, sistem menampilkan empat kategori utama dalam setiap proses berpikir AI:
- Thoughts (Pikiran): menjelaskan apa yang sedang dipertimbangkan.
- Reasoning (Alasan): mengapa AI memilih tindakan tertentu.
- Plan (Rencana): langkah konkret yang akan diambil.
- Criticism (Evaluasi): refleksi agar hasil berikutnya lebih baik.
Dengan begitu, pengguna bisa melihat secara transparan bagaimana AI mengambil keputusan dan memperbaikinya sendiri.
Perbandingan AutoGPT vs ChatGPT
Walaupun keduanya sama-sama menggunakan model GPT-4, cara kerja dan fungsinya berbeda jauh.
1. Akses Internet dan Data Real-Time
ChatGPT hanya mengandalkan data pelatihan hingga September 2021, sehingga tidak bisa mengakses informasi terbaru.
Sebaliknya, AutoGPT terhubung langsung ke internet. Ia dapat menelusuri situs web, memverifikasi sumber informasi, hingga melakukan tindakan seperti mengirim email atau menganalisis tren pasar secara real-time.



