3. Potong Pembukaan yang Terlalu Panjang dan Langsung ke Inti Pesan
Masalah klasik penulis: pembukaan terlalu lama. Kalimat pertama seharusnya menggugah rasa ingin tahu, bukan sekadar pemanasan.
Dalam dunia digital, perhatian pembaca sangat terbatas. Jika paragraf pertamamu belum menyentuh inti, besar kemungkinan mereka sudah scroll atau menutup halaman.
Solusinya sederhana tapi efektif: hapus paragraf pertama. Serius.
Biasanya, kalimat pembuka hanyalah pemanasan pikiran penulis, bukan pesan yang dibutuhkan pembaca. Cari titik di mana tulisanmu mulai menyampaikan sesuatu yang penting — di situlah seharusnya artikel dimulai.
Contoh:
- ❌ “Seiring berkembangnya era digital, banyak bisnis kini berlomba-lomba meningkatkan kualitas marketing mereka…”
- ✅ “Ingin bisnis online kamu lebih dipercaya dan banyak closing? Mulai dari perbaiki copywriting-nya.”
Langsung. Jelas. Kena sasaran.
Dengan memotong intro berlebihan, kamu tidak hanya menghemat waktu pembaca, tapi juga meningkatkan engagement dan retensi.
4. Tambahkan Detail Spesifik dan Hilangkan Kalimat Umum
Copywriting yang baik adalah yang bisa divisualisasikan. Tulisan yang terlalu umum terasa kabur dan tidak menggugah imajinasi. Sebaliknya, detail konkret membuat pembaca bisa “melihat” dan “merasakan” pesanmu.
Bandingkan:
- ❌ “Cocok untuk ibu rumah tangga.”
- ✅ “Pas untuk kamu yang ingin menikmati secangkir kopi panas sebelum anak-anak bangun.”
- ❌ “Bisa bantu bisnis kamu berkembang.”
- ✅ “Bantu kamu menambah 2–3 klien baru setiap bulan tanpa harus iklan mahal.”
Kekuatan detail ada pada efek psikologisnya. Pembaca akan merasa kamu benar-benar mengerti kehidupan mereka, bukan sekadar menjual.
Saat menulis, tanyakan ini pada dirimu:
“Apakah kalimat ini bisa dibayangkan pembaca?”
Jika jawabannya tidak, tambahkan angka, deskripsi, atau contoh nyata.
Detail kecil bisa membuat perbedaan besar antara “tulisan promosi biasa” dan “copy yang menjual.”
5. Gunakan Gaya Bahasa yang Santai tapi Tetap Profesional
Banyak penulis di Indonesia berpikir, agar terlihat profesional, mereka harus menulis dengan bahasa kaku dan formal. Padahal justru sebaliknya: tulisan yang terlalu kaku membuat pembaca merasa jauh.
Tujuan utama copywriting adalah membangun koneksi, bukan sekadar menunjukkan kecerdasan atau kredibilitas.
Contoh:




[…] 5 Kesalahan Umum Copywriting dan Cara Memperbaikinya […]