- Tekankan pentingnya masukan mereka. Dari sesi briefing, sampaikan bahwa ide dan insight klien akan sangat memengaruhi arah tulisan.
- Uji ide sejak dini. Kalau kamu ragu dengan tone, arah, atau konsep, diskusikan dulu. Lebih baik revisi di tahap ide daripada mengulang seluruh naskah.
- Normalisasi revisi. Saat mengirim draft pertama, katakan, “Ini versi awal untuk kita bentuk bersama.” Dengan begitu, revisi terasa wajar, bukan tanda kegagalan.
Ingat: Feedback bukan kritik, tapi proses penyempurnaan. Semakin terbuka kamu berkolaborasi, semakin sedikit waktu yang terbuang untuk overthinking “apakah klien suka atau tidak.”
3. Gunakan Sistem Menulis, Bukan “Tulisan Mengalir Tanpa Arah”
Inspirasi memang penting, tapi jangan menjadikannya satu-satunya bahan bakar. Tanpa sistem menulis yang terstruktur, kamu akan cepat kehabisan energi dan mulai meragukan hasil sendiri.
Gunakan sistem menulis yang terencana dan efisien agar pikiranmu tetap fokus. Langkah-langkahnya:
- Tuangkan ide mentah dulu. Lakukan brain dump untuk menuangkan semua gagasan ke kertas atau layar. Setelah itu, susun ulang jadi poin-poin atau outline.
- Tulis dengan teknik sprint waktu. Atur timer 30 menit untuk menulis draf kasar, lalu 60 menit untuk penyempurnaan. Batas waktu membuat otakmu lebih fokus dan efisien.
- Pisahkan menulis dan mengedit. Jangan lakukan keduanya sekaligus. Saat menulis, biarkan ide mengalir. Saat mengedit, baru perbaiki.
Ingat teori Parkinson’s Law: “Pekerjaan akan memakan waktu sebanyak yang kamu berikan.” Jadi, jangan beri dirimu waktu terlalu banyak. Deadline adalah teman, bukan musuh.
4. Aktifkan “Inner Cheerleader”, Bukan “Inner Critic”
Semua penulis punya dua suara di kepala:
- Suara pertama adalah kritikus internal yang berkata, “Tulisanmu jelek. Tidak ada yang akan baca.”
- Suara kedua adalah pendukung internal — cheerleader yang berkata, “Kamu bisa! Ini cuma draft pertama.”
Sayangnya, suara pertama biasanya lebih keras. Untuk berhenti meragukan diri sendiri, kamu perlu memperkuat suara kedua.
Cara melatih “inner cheerleader”:
- Catat setiap kemenangan kecil. Simpan daftar proyek yang sukses, pujian klien, atau tulisan yang kamu banggakan.
- Buat folder motivasi. Kumpulkan testimoni klien atau komentar positif. Saat rasa ragu datang, buka folder itu dan baca ulang.
- Gabung komunitas penulis. Berada di antara orang-orang yang mengalami hal serupa bisa mengurangi tekanan dan meningkatkan semangat.
- Jaga ucapan terhadap diri sendiri. Jangan ucapkan pada dirimu hal yang tak akan kamu katakan pada teman. Kalau kamu tidak akan bilang “Tulisanmu sampah” pada orang lain, jangan katakan itu pada diri sendiri.
Kuncinya sederhana: perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan teman sesama penulis.
5. Terus Belajar Seni dan Ilmu Copywriting
Rasa percaya diri tidak datang dari motivasi — tapi dari kompetensi. Semakin kamu memahami prinsip dasar copywriting, semakin kecil kemungkinan kamu meragukan dirimu sendiri.




[…] 5 Cara Ampuh Mengatasi Rasa Ragu Saat Menulis Copywriting […]
[…] 5 Cara Ampuh Mengatasi Rasa Ragu Saat Menulis Copywriting […]